no tags
Aji Cakti
16 February 2018

Jakarta, GoHitz.com – Setiap tahunnya perayaan Imlek selalu terkait dengan keberadaan kelenteng-kelenteng bersejarah di Indonesia. Salah satu kelenteng paling bersejarah dan mungkin tertua di pulau Jawa merupakan Kelenteng Cu An Kiong.

Nama Cu An Kiong sendiri dalam bahasa Tionghoa artinya Istana Ketentraman Welas Asih dan berlokasi tepatnya di Kota Lasem, Jawa Tengah. Kelenteng ini konon didirikan pada tahun 1335 Masehi, namun mengalami pemugaran atau renovasi pada abad tahun 1838 dan 1900.

Menurut cerita masyarakat Tionghoa, Kelenteng Cu An Kiong merupakan saksi bisu sejarah pendaratan pertama laksamana muslim terkenal Cheng Ho dari Tiongkok. Kapal yang membawa Laksamana Cheng Ho berlabuh dan mendarat persis di sungai yang berada di depan kelenteng tersebut.

Bukan hanya cerita legendanya, kelenteng ini juga memiliki sejumlah keunikan yang mampu memesona pengunjungnya. Di dalam kelenteng ini terdapat dua tiang penyangga dari kayu jati yang berusia tua dan sampai sekarang belum pernah diganti.

Selain itu ukiran-ukiran kelenteng sendiri merupakan hasil karya seni dari ahli-ahli ukir yang berasal dari Guangdong, Tiongkok. Menurut cerita, para ahli ukir dari Tiongkok itu setelah memugar Kelenteng Cu An Kiong  kemudian menetap di Kota Kudus dan mengajarkan keahlian mereka kepada masyarakat setempat.

Di bagian dalam kelenteng terdapat altar-altar sembahyang berhiaskan beragam dekorasi cantik. Ada dua altar sembahyang yang sangat terkenal di Kelenteng Cu An Kiong, altar pertama, yakni  Tian Shang Sheng Mu yang sangat sakral dan tidak terbuka untuk umum.

Sedangkan altar kedua merupakan altar peghormatan untuk Raden Panji Margono. Raden Panji Margono merupakan salah satu pahlawan etnis Tionghoa-Muslim Indonesia yang turut berjuang melawan penjajah kolonial Belanda dalam Perang Kuning yang pernah berkobar di Indonesia.

Ternyata, Kelenteng Cu An Kiong bukan hanya menjadi kelenteng yang dipenuhi dekorasi indah semata, namun juga menjadi simbol bagi sejarah masuknya agama Islam ke Indonesia dan saksi perjuangan masyarakat Indonesia keturunan etnis Tionghoa dalam melawan penjajah Belanda.

Teks : Aji Cakti
Editor : Paramita
Foto : Diah Kusumawardhani Wijayanti

 

Baca Juga




Baca Juga

Berkaraoke Sampai Dinner Romantis di Kincir Ria Tertinggi di Indonesia
4 07 2018
3 Pesona Maribaya Lembang Yang Bikin Kepincut
16 07 2018
5 Hal Ini Harus Diperhatikan Untuk Yang Baru Pertama Kali Naik Gunung
14 07 2018
5 Obyek Wisata Ini Dipercaya Bisa Mendatangkan Jodoh, Jomblo Wajib Datang Nih!
11 07 2018