...
no tags
Anggarini Paramita
26 April 2018

Jakarta, GoHitz.com – Kehancuran alam semesta dalam film terbaru besutan Marvel, Avangers: Invinity War, dipicu keinginan Thanos untuk memulihkan keseimbangan alam akibat kelebihan populasi di setiap planet. Pemikiran ini tentu saja menimbulkan pro dan kontra, karena langkah yang dilakukan Thanos dinilai terlalu ekstrem: memusnahkan setengah populasi. Pertanyaannya, apakah hal ini akan betul-betul terjadi?

Ketidakseimbangan antara populasi dengan kebutuhan hidup penunjang tersebut dikuatkan data PBB dan Shell yang mengungkapkan permintaan akan energi global, air, dan pangan akan meningkat sebesar 40-50% pada tahun 2030. “Hal ini utamanya disebabkan pertumbuhan penduduk, urbanisasi, standar hidup yang meningkat, dan revolusi digital serta mobilitas yang tinggi. Di Asia sendiri, tingkat konsumsi dan permintaan energi ini akan tumbuh dan berkembang sangat cepat,” ujar Darwin Silalahi, Country Chairman dan Presiden Direktur PT Shell Indonesia.

Menurut Darwin, hal yang terpenting saat ini adalah inovasi untuk menghasilkan energi terbarukan yang bersih atau mengeluarkan gas karbondioksida (CO2) dalam jumlah minimal. “Pada tahun 2050, diprediksikan sumber energi terbarukan akan mensuplai hingga 30 persen dari permintaan energi global; sementara saat ini suplai baru mencapai 13 persen. Dari tahun 2011 hingga 2014, Shell telah menginvestasikan lebih dari 100 miliar USD, untuk melakukan pengembangan energi terbarukan,” jelasnya.

#makethefuture dan #energimasadepan

Komitmen Shell dalam pengembangan energi terbarukan ini, lanjutnya, diwujudkan dalam kampanye bertajuk #makethefuture dan #energimasadepan. “Beberapa program yang tengah dipromosikan antara lain menghilangkan gap gender di bidang teknologi, pengembangan proyek energi bersih, dan ekspedisi pencarian energi terbarukan. Shell memiliki komitmen untuk membantu mengatasi tantangan energi melalui cara yang bertanggung jawab dengan bekerja sama pihak-pihak yang berkepentingan,” papar Darwin.

Dalam data yang dirilis World Economic Forum, terungkap dari 20 persen lulusan wanita dari jurusan teknik, hanya 11 persen lulusannya yang bekerja di bagian teknik. “Di Shell, kami mempromosikan budaya kesetaraan gender, misalnya dengan mempekerjakan dan mengembangkan staf wanita yang berbakat, memastikan mereka mendapatkan cuti melahirkan dengan lingkungan kerja yang fleksibel. Juga bekerjasama dengan lembaga pendidikan dan penelitian, yang selama ini agak kurang diminati oleh kaum wanita, seperti teknik dan sains,” paparnya.

Saat ini, lanjutnya, Shell merupakan pionir di pengembangan biofuel, yang menghasilkan emisi CO2 lebih sedikit dibandingkan BBM. Selain biofuel berupa ethanol dari tebu di Brasil, Shell juga sedang mengembangkan energi alternatif lainnya. Misalnya, mengubah energi biomassa dan sampah menjadi bahan bakar di Bangalore, India. Juga pengembangan bahan bakar hidrogen untuk kendaraan elektrik di Jerman, dan mengembangkan teknologi pengisian daya secara cepat untuk kendaraan listrik di Inggris dan Belanda.

#shellecomarathon

Selain kampanye #makethefuture, Shell juga menggelar kompetisi antar perguruan tinggi untuk mengembangkan solusi mobilitas yang inovatif. “Melalui kompetisi Shell Eco-Marathon, para mahasiswa dari jurusan teknik, desain, ilmu pengetahuan dan teknologi berkompetisi untuk merancang, membangun, dan menggerakkan kendaraan paling hemat energi di dunia. Mereka ditantang untuk berinovasi melampaui batas-batas efisiensi penerapan energi yang bisa diaplikasikan di jalan raya,” imbuhnya.

Di tahun 2018 ini, kompetisi yang dipromosikan dengan tagar #shellecomarathon ini diselenggarakan di 3 regional, yaitu Amerika, Asia, dan Eropa. “Penyelenggaraan di Asia dilaksanakan pada bulan Maret yang lalu di Changi Exhibition Center, Singapura, dengan dua kategori yang dilombakan, yaitu Urban Concept dan Prototype. Melalui Shell Eco-Marathon, generasi muda Indonesia diajak untuk bersama-sama membantu dunia dalam memenuhi kebutuhan energi yang terus meningkat, agar kehidupan generasi mendatang menjadi lebih baik,” sambung Darwin.

Dalam perhelatan yang diikuti 26 tim mahasiswa dari 20 perguruan tinggi di Indonesia ini, tim Indonesia berhasil menyabet juara pertama hingga juara ketiga pengemudi tercepat dan hemat energi, yaitu Semar Urban dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Tim 2 dari Institut Teknologi Sepuluh November, dan posisi ketiga diraih Garuda Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Eco Team.

Selain itu di kategori Urban Concept, yang berfokus pada kendaraan roda empat yang menekankan pada super ekonomis dan kepraktisan desain sekaligus memenuhi kebutuhan nyata pengguna transportasi di daerah perkotaan, lima tim Indonesia berhasil meraih penghargaan, yaitu ITS Team 2 (Institut Teknologi Sepuluh Nopember), Semar Urban UGM Indonesia (Universitas Gadjah Mada), Garuda UNY Eco Team (Universitas Negeri Yogyakarta), Nogogeni ITS Team 1 (Institut Teknologi Sepuluh Nopember), Bumi Siliwangi Team 4 (Universitas Pendidikan Indonesia).

Menurut Darwin, 3 tim mahasiswa Indonesia berhak bersaing dengan tim-tim dari Amerika dan Eropa di kompetisi adu cepat mobil hemat energi di Drivers World Championship (DWC) Final di London pada Juli 2018 mendatang. "Selamat kepada tiga tim Indonesia yang berhasil menjadikan All Indonesian Team sebagai juara di DWC Asia 2018. Pencapaian mereka adalah bukti nyata yang bisa menginspirasi anak-anak muda Indonesia lainnya untuk berkompetisi hingga di tingkat global,” tandasnya.

Foto : Istimewa
     
     

 

Baca Juga




Baca Juga

Manjakan Pecinta Game Tanah Air, BIGO Luncurkan Cube TV
21 05 2018
Asus Kembali Hadirkan Dua Smartphone Terbaru dengan Teknologi Terkini
17 05 2018
Jam Tangan Canggih Ini Wajib Dimiliki Penggemar Olahraga Lari
12 05 2018
5 Bagian Video Game yang Biasanya Menyimpan Kode Cheat
2 05 2018