Dibaca 587 kali
...
no tags
Anggarini Paramita
23 February 2018

Jakarta, GoHitz.com – Istilah Pelakor (perebut laki orang) belakangan ini semakin nge-hitz lantaran kasus labrak yang heboh di social media. Tak hanya perempuan saja pelakunya, tapi ada pula istilah Pebinor (perebut bini orang). Duh! Sama-sama perebut, sudah pasti dong banyak “musuh”nya. Lalu, kalau Sobat GoHitz jadi korban salah satu di antaranya, mesti gimana dong?

Perasaan sakit hati pasti melanda. Ugh, rasanya kalau emosi tak terkontrol, melabrak dan memaki si Pelakor/Pebinor tersebut. Tapi, Sobat GoHitz memilih jalan tersebut, bisa jadi masalah bukan selesai justru makin rumit.

Sebelum mengambil langkah nyata, sebaiknya Sobat GoHitz tahu dulu kenapa sih terjadi “perebutan” tersebut?

“Perselingkuhan itu terjadi karena ada kepuasan diri untuk mendominasi di tempat yang salah. Nah, kalau dirunut masa kecil, ketidakpuasan itu bisa jadi karena tidak ada pemuasan kebutuhan psikologis sejak kecil. Akibatnya, muncul konsep diri yang rendah dan trauma kehilangan. Pelampisan di usia dewasa adalah kepuasan merebut pasangan orang lain,” ungkap Psikolog Irma Gustiana Andriani.

Menurut Irma, ada beberapa langkah konstruktif yang bisa mengembalikan pasangan Anda yang “hilang” tanpa kehilangan harga diri Anda sendiri.

“Jalinlah komunikasi kembali. Tidak bersikap reaktif yang seolah-olah menyalahkan pasangan. Gunakan i- language, artinya gunakan kata ‘saya’ dibanding kata ‘kamu’. Contohnya, ‘Saya tahu mas memiliki wanita lain, saya merasa sakit hati’ dibanding kata-kata,‘Dasar kamu ..blabla…’. Pasangan akan mengerti dan dia pun merasa bersalah,” tegasnya sembari mengingatkan bahwa memang benar ada bukti kuat soal perselingkuhan tersebut.

Psikolog yang berpraktik di Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia (LPTUI) juga mengatakan bahwa ajaklah pasangan kembali merajut kerja sama sebagai istri dan suami.

“Kalau ternyata, cara di atas belum bisa membuka kebenaran soal perselingkuhan tersebut, padahal nyata-nyata ada bukti perselingkuhan, mintalah bantuan konselor yang bisa melihat permasalahan lebih subjektif.  Atau coba support system terdekat, seperti keluarga untuk membantu mendamaikan. Bila berhasil, kembali bicarakan mengenai tujuan pernikahan Anda ke depannya, mulai dari perbaikan diri masing-masing hingga urusan anak,” pungkas Irma.  

Teks : Paramita
Foto : Shutterstock
     

 

Baca Juga




Baca Juga

11 Tahun Menikah, Winky Wiryawan Santai Kalau Ditanya Soal Momongan
5 07 2018
5 Cara Terbaik Rayakan Hari Ayah Sedunia
18 06 2018
Bikin Kangen, 5 Hal Romantis Gaya Pacaran Anak Muda Zaman Dulu
8 06 2018
Begini Cara Pria Single Agar Pede di Hadapan Perempuan Pujaan
29 05 2018