...
no tags
Anggarini Paramita
13 September 2017

Jakarta, GoHitz.com - Kepedulian masyarakat Indonesia terhadap infeksi organ liver, yang lazim dikenal sebagai hepatitis, dianggap sangat rendah. Salah satu penyebabnya adalah hepatitis termasuk penyakit yang tidak menunjukan gejala jelas. Akibatnya, ketika pasien terdiagnosis hepatitis, tingkat kerusakan livernya sudah ada di tahap lanjut; sehingga satu-satunya pilihan terapi yang tepat adalah dengan melakukan cangkok hati.

Hal itu diutarakan DR. dr. Rino Alvani Gani, SpPD-KGEH, hepatolog yang saat ini menjadi Ketua Komite Ahli Heptitis di Kementerian Kesehatan RI. “Selain kepedulian yang rendah, ada persoalan lain yang perlu mendapatkan perhatian yaitu kelompok pasien hepatitis C yang disertai komplikasi penyakit lain. Salah satunya pasien hepatitis yang disertai Penyakit Ginjal Kronik (PGK). Diperkirakan ada sekitar 30-60% pasien penyakit ginjal kronik, yang tertular infeksi hepatitis,” ujarnya dalam acara diskusi di Jakarta.

Jika tertular virus hepatitis C, lanjutnya, maka persoalan menjadi semakin rumit karena obat-obatan untuk hepatitis C yang tersedia saat ini belum optimal jika diberikan pada pasien PGK. “Di Indonesia kasus penularan hepatitis C melalui proses hemodialisa sangat besar mencapai 30-60%. Keparahan penyakit dan kualitas hidup pasien PGK yang tertular hepatitis C umumnya jauh lebih buruk dibandingkan mereka yang memiliki PGK saja. Kelompok pasien ini harus lebih diperhatikan terutama terkait terapinya,” imbuh Rino.

Ia menjelaskan, munculnya terobosan dengan ditemukannya obat hepatitis C, yaitu obat antivirus dari golongan Direct Acting Antivirus (DAA), membuat target terapi hepatitis C saat ini adalah kesembuhan. “Respon terapi dengan DAA sangat tinggi, mencapai di atas 90% bahkan 98%. Keunggulan DAA antara lain efek samping sangat rendah dan mudah dikonsumsi karena dalam bentuk sediaan oral,” urai pria yang juga menjabat Kepala Divisi Hepatobilier di RSCM/FKUI Jakarta ini.

Rino menambahkan, saat ini sudah ada obat dari golongan DAA terbaru yang aman diberikan pada pasien PGK yaitu Grazoprevir + Elbasvir. “Obat ini disekresi di hati sehingga aman untuk ginjal, dan memiliki efektivitas setara dengan DAA lainya. Tetapi obat ini masih terkendala ijin edarnya dan saat ini masih menunggu proses registrasi di BPOM,” ujarnya.

Ia melanjutkan, Kemenkes berharap semua kelompok pasien yang harus mendapatkan terapi optimal, sehingga target eliminasi hepatitis di tahun 2030 dapat tercapai. “Target tersebut mencakup semua jenis infeksi hepatitis. Untuk eliminasi sampai 0% memang tidak mungkin. Namun tujuannya adalah menurunkan jumlah penderita sebanyak mungkin, untuk menekan beban biaya kesehatan. Ini adalah tugas kita bersama agar semua pihak mendukung program eliminasi hepatitis, termasuk masyarakat sipil, media massa, tenaga kesehatan, dan instansi terkait,” tandas mantan Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI).

Foto : Shutterstock
     
     

 

Baca Juga




Baca Juga

5 Fakta Unik Liga Bangsa-Bangsa, Pendahulunya PBB
16 01 2018
Teman Lahiran Bantu Ibu Rasakan Indahnya Proses Persalinan
16 01 2018
KPBMI akan Luncurkan Komik Cagar Budaya dan Museum
15 01 2018
Miss Internet Indonesia 2017 Berbagi Tip Kembangkan Diri dengan Internet
10 01 2018