...
no tags
Anggarini Paramita
27 March 2018
Jakarta,  GoHitz.com -
 
"Aku dulu parah banget. Benar-benar yang bokap nyokap nangis tiap hari ngelihat anaknya yang benar-benar liar enggak bisa diatur. Tapi dalam hati nurani aku, aku enggak pengin banget kayak gitu. Waktu itu aku udah nyakitin diri, enggak tidur berhari-hari. Aku udah ngomong gue mau mati, udah ngomong ngaco, caci maki, semuanya... "
 
Itulah sepenggal kalimat yang terlontar dari mulut Hana Alfiqih atau yang lebih dikenal dengan nama Hana Madness, saat GoHitz mewawancarai dirinya. Hana merupakan seorang perempuan yang mengidap Bipolar Disorder dengan Psikotik, yakni sebuah gangguan mental yang membuat dirinya mengalami perubahan suasana hati yang ekstrem. 
 
Hana bisa tiba-tiba merasa bahagia (mania) yang berlebihan, namun sesaat kemudian suasana hatinya bisa berubah menjadi sedih (depresi) yang juga berlebihan. Hana pun mengalami halusinasi yang cukup parah. 
 
Yang menarik dari sosok Hana, dirinya mampu bangkit dari keterpurukan akibat gangguan mental yang dideritanya tersebut, dan beralih menjalani kehidupan yang lebih positif. Hana kini dikenal sebagai seniman lukis muda berbakat yang karya-karyanya telah banyak dipamerkan di berbagai galeri di Indonesia. 
 
Hana adalah anak kedua dari empat bersaudara. Ayahnya seorang kontraktor, sementara ibunya adalah ibu rumah tangga yang agamis. Sejak kecil Hana sudah merasakan adanya gangguan mental dalam dirinya. Perempuan kelahiran Oktober 1992 ini kerap mengamuk tanpa alasan yang jelas. Dirinya juga sering menyakiti diri dengan menyayat kulit atau membenturkan kepala ke tembok. 1
 
Hana mengatakan saat itu orang tuanya belum mengetahui kalau dirinya mengalami gangguan mental. Ketika "penyakit" kambuh, Hanna justru mendapat pukulan, tamparan dan "hukuman tegas" lainnya dari kedua orang tuanya. Hana juga dikurung di dalam rumah. Tak tahan dengan perlakuan yang dia terima dari orang tuanya, saat SMP,  Hana pun nekat untuk kabur dari rumah.
 
"Aku sekolah berantakan. Meskipun aku bisa ngikutin pelajaran dengan baik,  tapi aku sering dipanggil orang tua aku karena aku suka yang enggak pulang ke rumah, enggak masuk berhari-hari. Di situ aku enggak punya teman, dijauhin. Aku sebenarnya ingin pulang ke rumah, tapi aku enggak nyaman. aku enggak ada pilihan," tuturnya. 
 
Dalam kondisinya yang seperti itu, Hana mulai menghabiskan waktu dengan menggambar. Perempuan berparas cantik ini kerap bargaul dengan banyak seniman. Di sinilah bakat seni Hana mulai terlihat. 
 
Saat di bangku SMA Hana mulai memasang tato. Kegiatan merajah tubuh ini dia lakukan untuk mengalihkan "'kecanduannya" terhadap rasa sakit. Dengan menato tubuh, Hana mencoba untuk menghilangkan kebiasaan menyakiti diri yang dia lakukan sebelumnya, seperti menyayat kulit ataupun membenturkan kepala ke tembok.
 
"Sebagai pengalihan rasa sakit dengan apa yang ada di kepala aku, aku kan halusinasi juga, dan itu sangat-sangat melelahkan. Jadi, perasaan itu aku transformasikan ke dalam bentuk kayak menyakiti diri. Pas SMA kelas 3 aku bikin tato pertama," ungkap Hana. 
 
Hana mengimbuhi,"Dari situ nagih-nagih terus. Enggak tahu ya, dulu itu tato semacam kebutuhan. kalau orang nanya tato pertama kamu apa artinya, enggak ada, random aja, karena aku cuma mau ngerasain adiksi dari rasa sakitnya."
 
Hana masih terus bergulat dengan gangguan mentalnya hingga duduk di bangku kuliah. Dirinya masih sering kabur dari rumah, menghabiskan waktu dengan nongkrong dan menggambar. Hidupnya seakan monoton. Hingga pada suatu ketika dirinya merasa berada di titik terendah. 
 
"Ada titik terendah di hidup dan itu jadi fase titik balik aku. Di waktu kuliah, di kosan, orang tuaku enggak tau, itu aku enggak tidur berhari-hari dan nyakitin diri. Itu aku histeris banget. Aku enggak tau harus ngapain, aku selama ini selalu nyalahin nyokap, Tuhan, orang lain, gue benci semua orang. Sampai akhirnya oke gue mencoba untuk memaafkan semuanya meskipun itu berat banget," terang perempuan bertato ini.
 
Dengan segala proses yang terjadi, Hana akhirnya menerima bahwa dirinya berbeda dari yang lain. "Oke gue berkarya dengan segala kekuatan dan mencoba menjadikan itu sebagai senjata. Dan pada akhirnya apresiasi berdatangan dengan sendirinya," terang perempuan berusia 25 tahun tersebut. 
 
Perempaun yang didiagnosa mengidap gangguan mental bernama Bipolar Disorder dengan Psikotik pada tahun 2012 ini, semula orang tuanya mengira bahwa Hana berprilaku aneh karena pergaulan yang salah, kesurupan, dan sebagainya. Ternyata, yang sesungughnya terjadi adalah putrinya mengalami gangguan mental.
 
Hana mengakui bahwa diagnosa terhadap dirinya memang bisa dibilang sangat telat untuk dilakukan. Namun dia tetap bersyukur, karena berkat diagnosa tersebut akhirnya orang tuanya mau menerima kondisinya. 
 
Perempuan yang pernah mengenyam pendidikan tinggi di Universitas Al-Azhar Jakarta ini mulai menata lembaran baru dalam hidupnya. Lewat bakat menggambar yang dimiliki, dirinya mulai melukis dengan lebih serius. Hana memilih untuk menggambar dengan aliran doodle art.
 
Karya yang dibuat olehnya kemudian dipamerkan dalam sejumlah pameran seni. Banyak seniman yang kemudian mengapresiasi karya-karyanya. Kini, lukisan Hana tak cuma terpajang pada pameran-pameran berskala kecil saja, tapi sudah dapat dilihat di banyak pameran berskala nasional. 
 
Lambat namun pasti nama Hana mulai dikenal oleh publik. Hana kini sudah banyak mengisi seminar terkait isu disabilitas mental dan seni. Dirinya juga masih aktif mengikuti berbagai pameran. Terdekat perempuan yang menyukai seni tindik tubuh ini akan terlibat dalam acara bernama Festival Bebas Batas dan UK ID Festival. 
 
Hana mengatakan keberhasilan yang telah dia capai saat ini tak lepas dari dukungan yang diberikan oleh orang-orang terdekatnya. Dukungan dan apresiasi yang dia peroleh saat ini sangat membantu dirinya dalam mengendalikan gangguan mental yang masih terus dia derita. 
 
"Mungkin karena ada yang aku hasilkan, jadi aku enggak nyangka di instagram orang pada nanyain karya aku. Itu dopping buat aku untuk terus produktif. Oke ada orang yang nungguin karya gue, gue harus create something terus. Itu jadi doping buat aku. aku senang orang appreciate dan pada akhirnya orang menganggap aku seniman aja," ujarnya. 
 
Hana mengatakan dengan jujur bahwa dirinya kerap dilanda depresi. Hanya saja, intensitas berkurang saat ini.
 
"Sekarang aku sudah ngikutin alur. Mungkin karena aku diet vegan juga, efeknya ngaruh ke emosi. kita adalah apa yang kita makan dan itu ngaruh banget. aku sudah enggak konsumsi obat dokter, aku bisa lebih hidup sehat," tambahnya. 
 
Hana merasa hidupnya kini sudah jauh lebih berarti. Segala dampak yang disebabkan oleh penyakit mentalnya sudah lebih mampu dia atasi. Dalam hal karir pun Hana sudah ada di jalur yang tepat.
 
Meski begitu, masih ada banyak impian yang masih ingin dia kejar. Salah satunya adalah mimpi agar dirinya bisa dikenal publik sebagai seniman yang memiliki karya bagus tanpa embel-embel sebagai pengidap penyakit gangguan mental. 
 
"Kalau boleh mimpi aku ingin bisa dikenal orang, terutama karyaku. Aku ingin mendapat apresiasi, aku ingin terus bisa melebarkan sayap, entah dalam konteks disabilitas mental ataupun tidak. Aku ingin bisa go internasional,  aku ingin bisa kolaborasi. Ya, aku ingin bisa nunjukin ke orang tua aku, dan aku ingin nunjukin ke diri aku kalau aku bisa," tutup Hana. 
 
Teks & Foto : Fathur Rochman
Editor Teks : Paramita
Editor Foto : Kahfie Kamaru

 

Baca Juga




Baca Juga

Rumah Langit, Tempat Belajar Gratis Bagi Anak-anak Kurang Mampu
3 07 2018
Berkenalan dengan Heidi, Penyanyi Pendatang Baru di Skena Musik Folk Tanah Air
29 06 2018
Cerita Inspiratif Kevin Naftali Sang Pendiri Kevas Co.
20 05 2018
Ini Sosok Ibu Bagi Tenaga Kerja Indonesia Di Taiwan
14 05 2018