...
no tags
Maria Cicilia Galuh
4 March 2018

Jakarta, GoHitz.com - Banyak orang bilang benih kesuksesan perlu dipupuk sejak dini. Mungkin pepatah ini berlaku bagi Maram Kokandi yang menghargai suasana keterbukaan dan kehangatan di negaranya, ketika dirinya meniti karier selama bertahun-tahun hingga mengantarkan Maram ke posisi sangat bergengsi saat ini.

“Saya mengenal keragaman budaya, baik di Arab Saudi maupun ketika traveling bersama keluarga selama liburan musim panas, di mana saya mendapatkan banyak memori sangat positif. Saya mengingat betul saat kedua orangtua saya selalu mendorong untuk mengeksplorasi potensi dan mengenal dunia di sekitar saya,” kata Maram.

Mungkin tanpa disadari kegemarannya melakukan traveling secara kebetulan mengantarkannya ke dunia bisnis, kendati Maram sebetulnya merupakan lulusan sarjana biologi.

“Saya mendapatkan kesempatan ini saat bekerja sebagai koordinator klub kesehatan, dan saya senang untuk berinteraksi dengan banyak orang. Saya kemudian bekerja di bisnis penjualan kosmetik, namun hati saya selalu ingin berkecimpung di sektor hospitality. Mengetahui hal ini, bos saya lalu membantu saya mendapatkan pekerjaan sebagai sales manager di hotel Rosewood, di mana untuk pertama kalinya juga saya merupakan sales manager hotel wanita pertama di Arab Saudi,” tuturnya.

Dirinya meyakini bahwa karier di bisnis hospitality sudah menjadi bakatnya. “Ini kebudayaan kami, terutama di sini wilayah ini (Jeddah dan Mekkah). Kami selalu menyambut banyak orang, yang datang untuk melakukan wisata ziarah. Plus, saya memiliki potensi ini untuk membuat perubahan dengan bergabung dalam industri tersebut,” katanya.

Dia pastinya sudah membuat perubahan, dimana saat ini makin banyak wanita di Arab Saudi mulai bekerja di industri hospitality. Contohnya, grup Accor Hotels mengikutsertakan banyak wanita dalam program manajemen training-nya selama 2015 dan 2016, bahkan ajang penghargaan Hotelier Middle East yang bergengsi memberikan penghargaan “Young Hotelier of the Year” kepada seorang wanita Arab Saudi.

Maram sendiri melihat dirinya menginspirasi adik bungsunya yang memilih untuk berkuliah di jurusan manajemen perhotelan, karena ingin mengikuti jejak karir yang dirintis oleh sang kakak.

Namun selama berkarir, Maram juga menghadapi sejumlah tantangan pekerjaan yang harus dihadapi oleh wanita-wanita lainnya yang berkecimpung di industri hospitality.

“Ketika saya pertama kali mulai bekerja di sektor hospitality, pekerja wanita di industri ini jauh lebih sedikit dibanding sekarang, dan saat itu juga merupakan momen yang sulit. Contohnya, ketika menjabat sebagai duty manager saat shift malam merupakan tantangan besar, bukan hanya harus berhadapan dengan persepsi publik namun juga mengatasi konflik keluarga terkait apakah pekerjaan ini pantas untuk dilakukan seorang wanita,” katanya.

Dia harus menghadapi beragam tantangan mulai dari masalah serius seperti prinsip moral hingga isu-isu praktis seperti mengenakan hijab saat bekerja, di mana norma dalam industri tersebut lebih menekankan pada seragam sebagai busana kerja.

Namun dirinya berhasil mengatasinya dengan sejumlah solusi kreatif seperti merancang sendiri busana abayanya! “Saya membuat abaya yang sangat modern, agar memudahkan saya bekerja dan tetap mempertahankan identias budaya saya,” katanya.

Namun tantangan terbesar yang pernah dihadapinya sebagai wanita di posisi kepemimpinan merupakan masalah yang universal.

“Saya harus bekerja sangat keras untuk membuktikan diri saya sebagai pemimpin kapabel. Kendati sebagian besar kolega pria memberikan dukungan luar biasa, terdapat sejumlah momentum dimana saya harus meyakinkan yang lain terkait kompetensi saya sebagai pemimpin wanita. Sebelumnya terdapat kendala, seperti kurangnya mentori bagi pekerja wanita dan penggunaan metode penilaian berbeda saat mengevaluasi performa karyawan wanita dan pria di tempat kerja – yang menghambat kemajuan karier seorang pekerja wanita, namun untungnya hal-hal seperti ini perlahan-lahan mulai dihilangkan,” tutur Maram.

Meski menghadapi sejumlah tantangan tersebut, Maram menegaskan fakta bahwa dia tidak akan bisa mencapai posisi sekarang tanpa adanya dukungan dari organisasi dan pemerintahnya.

“Berkat program Balance Leadership di Carlson Rezidor (sekarang bernama Radisson Hotel Group) dan tujuannya untuk meningkatkan keberagaman dan keterbukaan di dalam bisnis itu, yang mengantarkan saya meraih kesuksesan saat melamar untuk posisi General Manager. Mereka memiliki program kepemimpinan bernama STEPS, yang hanya berfokus pada wanita yang sangat berpotesi, dengan mendorong dan memberdayakan mereka untuk maju,” tuturnya.

Sedangkan dukungan dari level pemerintah melalui bentuk Saudi Vision 2030, yang secara elegan dirinya jabarkan sebagai “dukungan luar biasa yang mengantarkan wanita-wanita meraih impian mereka” juga telah berperan besar dalam kesuksesan kariernya.

“Salah satu faktor wanita-wanita Arab Saudi lebih sukses dibanding sebelumnya karena King Abdullah Scholarship Program (yang memberikan keuntungan langsung bagi dia untuk meraih gelar sarjana manajemen perhotelan). Program ini terbuka bagi semua generasi muda Arab Saudi, khususnya kaum hawa, untuk mendapatkan standar pendidikan profesional lebih baik. Sebagian poin dari Vision 2030 juga untuk mengembangkan sektor pariwisata Arab Saudi, yang sangat krusial bagi industri hospitality agar mampu mengakomodasi beragam permintaan dan ekspektasi. Vision 2030 juga menekankan signifikansi dan peranan wanita Arab Saudi dalam memimpin pembangunan Kerajaan tersebut,” katanya.

Mengingat pentingnya partisipasi wanita dalam pembangunan bangsa, Maram hanya menyampaikan satu hal bagi wanita-wanita lainnya yang ingin sukses dalam dunia bisnis.

“Saya menyerukan kepada seluruh wanota di Arab Saudi untuk keluar dari zona nyaman dan menantang diri mereka. ini bukan lagi pilihan!”

 

Teks : Suharsana Aji
Editor : Maria Cicilia Galuh
Foto : YouTube
Sumber : Arabnews

 

Baca Juga




Baca Juga

Rumah Langit, Tempat Belajar Gratis Bagi Anak-anak Kurang Mampu
3 07 2018
Berkenalan dengan Heidi, Penyanyi Pendatang Baru di Skena Musik Folk Tanah Air
29 06 2018
Cerita Inspiratif Kevin Naftali Sang Pendiri Kevas Co.
20 05 2018
Ini Sosok Ibu Bagi Tenaga Kerja Indonesia Di Taiwan
14 05 2018