...
no tags
Maria Cicilia Galuh
4 January 2018

Jakarta, GoHitz.com - Nurul Tristiati tak pernah menyangka bahwa dirinya akan memperoleh pekerjaan sebagai seorang ahli forensik. Alih-alih menjadi ahli forensik, bersentuhan dengan peristiwa kriminal saja tidak pernah terlintas dalam pikirannya. Takdir Tuhan lah yang membawa Nurul bisa bekerja sebagai salah satu anggota dari tim Indonesia Automatic Fingerprint Identification System (Inafis) Mabes Polri. 

Nurul Tristiati adalah seorang perempuan asal Pemalang, Jawa Tengah. Semasa muda, ibu dua orang anak ini berkuliah di Universitas Pembangunan Nasional 'Veteran' Yogyakarta. Pada 2004, dirinya sukses menyelesaikan pendidikan strata 1-nya dan merengkuh gelar sebagai Sarjana Teknik Kimia. 

"Setelah lulus, saya mencoba melamar pekerjaan ke sana ke mari tapi tidak juga diterima. Lalu kemudian saya menikah. Saat itu, enggak pernah terpikir kalau saya akan terjun di dunia forensik," ucap Nurul saat berbincang dengan GoHitz di Wisma Antara, Jakarta Pusat, Rabu (3/1). 

Tak ingin menyia-nyiakan gelar akademik yang sudah diraihnya, pada 2008 Nurul kembali mencoba mencari pekerjaan. Harapannya, dia bisa bekerja di dunia industri yang berkaitan dengan kimia, sesuai dengan kemampuannya.

Nurul menuturkan, kala itu, kebetulan terdapat sebuah lowongan pekerjaan sebagai Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Polri. Dia pun mencoba menjajal kesempatan tersebut. Tak disangka, dirinya lolos seleksi dan berhasil diterima sebagai PNS dan ditempatkan pada bagian forensik.

Pada masa awal-awal bekerja sebagai PNS di lingkungan Mabes Polri, Nurul masih merasa kesulitan beradaptasi. Hal itu wajar saja, sebab semasa menempuh pendidikan di jurusan Teknik Kimia, ilmu tentang dunia forensik memang tidak diajarkan secara spesifik. 

"Awal-awal masuk saya tidak tahu apa yang harus dikerjakan, karena ini hal baru. Tidak ada materi ini di bangku kuliah. Saya lalu mencoba untuk mencintai apa yang saya kerjakan, karena ini sudah menjadi tugas saya. Di situ baru saya mendapat passion-nya betapa menyenangkannya dunia forensik ini," ungkap Nurul.

"Awalnya saya tidak tahu banyak (tentang dunia forensik), tetapi di kantor banyak planning untuk peningkatan kemampuan, baik secara internal oleh senior-senior kami, maupun pihak eksternal seperti FBI yang pernah memberikan training. Di situ saya mulai memperdalam tentang forensik, khususnya tentang pemeriksaan barang bukti dan Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan berbasis kepada pencarian sidik jari," tambahnya. 

Sebagai seorang ahli forensik Pus Inafis yang bekerja di lingkungan Mabes Polri, Nurul lebih sering bekerja untuk kasus-kasus kriminal berskala nasional. Seperti misalnya kasus 'Bom Thamrin' yang terjadi di Jakarta beberapa waktu lalu. 

Pekerjaannya ini memang mengharuskan Nurul untuk dekat dengan dengan hal-hal yang menyeramkan, seperti mayat, darah, bahan peledak dan lain sebagainya. Sebagai seorang perempuan, hal itu tentu menjadi tantangan tersendiri baginya. Namun seiring berjalannya waktu, Nurul mulai bisa membiasakan diri menghadapi hal-hal tersebut. 

Selama sembilan tahun lebih berkarir sebagai seorang ahli forensik, banyak suka dan duka yang telah dilaluinya, Nurul mengatakan salah satu duka yang kerap dialami adalah ketika dirinya tengah berlibur atau sedang bersama keluarga, tiba-tiba tugas memanggil dan dirinya diharuskan pergi ke TKP dan terpaksa menyudahi sejenak waktu kebersamaan bersama keluarga. 

"Di situlah, ketika kita sebagai ibu ingin berlibur dengan anak, dengan keluarga tiba-tiba tugas memanggil, ya saya harus siap. Kalau sukanya, pada saat saya bisa membantu mengidentifikasi, mengungkap, itu merupakan suatu kepuasan tersendiri yang tidak bisa diukur. Setidaknya saya bisa jadi satu bagian kecil dr sebuah solusi," tutur perempuan berhijab tersebut.

Saat ini Nurul menjabat sebagai Kepala Urusan Administrasi Bidang Daktiloskopi Kriminal Inafis Mabes Polri. Berbagai pengalaman berharga pun telah dilaluinya. Salah satunya ketika dirinya berkesempatan untuk mendapatkan pelatihan forensik di New Scotland Yard, London, Inggris, pada 2016 yang lalu.

"Alhamdulillah saya bisa berkesempatan ikut forensik training yang di London, lalu ikut (pelatihan dengan) interpol yang di Singapura, ini semua karena saya bekerja di bidang forensik juga," tuturnya. 

Nurul kini sudah melupakan cita-citanya untuk bisa bekerja di bidang industri. Rasa cintanya terhadap dunia forensik, serta dukungan penuh yang diberikan oleh sang suami, membuatnya berkeinginan untuk bisa terus menjadi seorang ahli forensik hingga masa baktinya selesai suatu saat nanti. 

"Sekarang alhamdulillah ketika sudah bekerja, saya sudah menemukan bahwa ini bidang saya yang harus saya dalami. Mudah-mudahan ini jadi satu ladang ibadah buat saya," tandasnya. 

 

Teks : Fathur Rochman
Editor : Maria Cicilia Galuh
Foto : Chairul Rochman

 

Baca Juga




Baca Juga

Mengabdi Sebagai Doula, Dyah Pratitasari Tinggalkan Profesi Jurnalis
16 01 2018
Shahnaz Haque: Jadilah Ibu yang Cerdas dan Tidak Banyak Mengeluh!
26 12 2017
Lois Merry Tangel Bawa Lima Penghargaan di Ajang Miss Tourism International 2017
22 12 2017
Izinkan Putrinya Sekolah di Kanada, Ini Nasihat Tegas Shahnaz Haque!
21 12 2017