Dibaca 1632 kali
...
no tags
Maria Cicilia Galuh
22 November 2017

Jakarta, GoHitz.com - "Saya bisa begini adalah yang paling utama karena doa. Tanpa doa akan percuma. Kekuatan doa itu adalah nomor satu, kemudian baru kita serius. Karena kalau kita berdoa dan kita kerja serius, Tuhan kasih upah kok".

Itulah keyakinan yang selalu dipegang dan dijaga oleh Gati Wibawaningsih. Dirinya percaya bahwa jabatan sebagai Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah di Kementerian Perindustrian yang dia emban sekarang merupakan buah dari kekuatan doa dan kerja keras yang dia lakukan selama ini. 

Sejak remaja, Gati sudah tertarik dengan dunia industri. Perempuan kelahiran Bogor, 25 Juli 1961 tersebut, melihat produk-produk yang ada di Indonesia banyak yang berasal dari luar negeri. Timbul pertanyaan dalam benaknya apakah Indonesia juga memiliki produk serupa? Atau produk tersebut hanya ada di luar negeri? Dari situ, timbul rasa keingintahuan yang kuat dalam dirinya untuk mengetahui lebih banyak lagi produk-produk yang ada di dunia. 

"Dari SMP saya sudah punya pikiran saya harus ke luar negeri. Saya ingin tahu produk-produk di dunia," ujar Gati saat berbincang santai dengan GoHitz di Kedai Kopi Tanamera, Pacific Place, Jakarta, beberapa waktu yang lalu. 

Setelah lulus dari SMA Bunda Hati Kudus, Grogol, Jakarta, Gati lalu melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi dengan berkuliah di Institut Teknologi Tekstil Bandung dan lulus dengan gelar sebagai Sarjana Kimia. Sampai akhirnya Gati memperoleh kesempatan untuk berkarir di dunia pemerintahan dengan menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil. 

"Sebenarnya saya tidak ingin menjadi pegawai negeri, saya inginnya jadi pengusaha. Sampai terakhir saya masuk pegawai negeri itu detik-detik terakhir. Saya last minute bergabung di Kementerian Perindustrian karena atasan saya bilang kalau saya tidak masuk-masuk, nama saya bisa dicoret. Akhirnya saya masuk (jadi PNS)," tutur perempuan berkacamata tersebut. 

Keputusan Gati untuk masuk menjadi bagian dari pegawai di Kementerian Perindustrian ternyata tepat. Dari sinilah mimpinya untuk bisa pergi ke luar negeri terwujud. Di tahun tahun pertamanya menjadi seorang PNS, Gati banyak dikirim ke berbagai negara, seperti Turki, Jepang dan Australia untuk mengikuti pelatihan. Sampai pada akhirnya, muncul kesempatan bagi dirinya untuk melanjutkan pendidikan S2 di Amerika Serikat. 

"Jadi saya waktu itu ikut Harvard Institute for International Development (HIID). Itu program pertama Harvard kerjasama dengan Kementerian Keuangan, yang boleh di-apply oleh kementerian-kementerian lain. Nah, terus ikutan dan saya diterima di Vanderbilt University di Amerika Serikat," terang perempuan yang pernah meraih penghargaan Satyalancana Karya Satya X tahun oleh Presiden RI pada tahun 2001 tersebut. 

Gati mengaku sangat bersyukur bisa mengikuti program pendidikan tersebut. Sebab, dirinya berkesempatan untuk bisa berjejaring dengan para penerima program dari kementerian-kementerian lainnya. Jejaring yang luas ini sangat berguna untuk pekerjaan Gati kedepan. 

Setelah sukses meraih gelar S2 Ekonomi di Vanderbilt University, Gati mulai membangun karirnya ke jenjang yang lebih tinggi. Perjalanan karirnya ternyata tidak berlangsung mulus. Dirinya pernah merasa sangat kecewa ketika gagal untuk mendapatkan sebuah kursi jabatan. Padahal, Gati merasa telah memenuhi kriteria untuk menduduki jabatan tersebut. 

"Saya kecewa karena saya sudah kerja bagus, sudah menunjukkan prestasi saya, tapi waktu pemilihan saya tidak terpilih. Tentu saya kecewa. Saya yakin saya bisa, nilai saya bagus tapi saya tidak terpilih. Saya kecewa, tapi juga bersyukur karena di situ saya jadi terpacu untuk berusaha dan bekerja lebih keras lagi," tutur Gati

"Saya sudah kerja keras, tapi bos saya kok tidak lihat ya ? Salah di mana nih? Lalu saya ubah polanya. Saya tidak pernah lihat semua sebagai ancaman. Tapi saya lihat semua sebagai peluang. Saya bukan orang yang senang dipuja, tapi saya orang yang senang dikritik. Kalau kita senang dipuja, kita tidak tahu kita sudah benar tidak jalannya," tambahnya. 

Kegagalan dan rasa kecewa yang pernah dialaminya, membuat Gati terus terpacu dan termotivasi untuk bekerja lebih keras dan lebih giat lagi. Sampai pada akhirnya, jalan untuk menuju puncak karir mulai terbuka kala dirinya dipercaya menjabat sebagai Direktur Industri Kecil dan Menengah Wilayah II periode 2010-2014. 

Kemudian dirinya didaulat sebagai Sekretaris Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi periode 2014-2015. Tak lama berselang, Gati memperoleh jabatan baru sebagai Direktur IKM Kimia, Sandang, Aneka dan Kerajinan untuk periode 2015-2016. Hingga pada akhirnya, perempuan 56 tahun tersebut dilantik sebagai Direktur Jenderal IKM Kementerian Perindustrian sejak tahun 2016 hingga saat ini. 

"Saya beruntung saya mendapat atasan yang baik-baik semua, sehingga saya mendapat bimbingan yang bagus. Saya pernah punya Kepala Bagian yang teliti banget dari segi konsep surat. Lalu saya pernah punya atasan yang teliti dalam angka, jadi saya belajar. Saya punya atasan yang detil dalam memeriksa. Jadi saya banyak belajar dari atasan saya. Saya bersyukur sekali Tuhan kasih atasan yang bagus-bagus," ungkap perempuan yang hobi berburu kuliner khas daerah di Indonesia tersebut. 

Dari enam Direktorat Jenderal yang ada di Kementerian Perindustrian, Gati merupakan satu-satunya perempuan yang sukses memperoleh jabatan sebagai Dirjen. Adapun lima Direktorat Jenderal lainnya, yaitu Direktorat Jenderal Industri Argo, Direktorat Jenderal Industri Kimia, Tekstil dan Aneka, Direktorat Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika, Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri dan Direktorat Jenderal Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional, kesemuanya dipimpin oleh kaum lelaki. Ini tentu menjadi sebuah prestasi tersendiri bagi perempuan yang selalu berpegang teguh pada komitmen tersebut. 

Berbagi waktu dengan keluarga dan hobi

Pagi hari, sebelum berangkat kerja merupakan waktu paling spesial bagi Gati. Mengapa demikian? Karena pada saat itulah dirinya bisa melangsungkan quality time bersama suami tercinta. Ya, kesibukan Gati dan suami membuat keduanya hanya memiliki sedikit waktu untuk bisa bersama-sama menjalin komunikasi yang intens. Ketiadaan keturunan membuat waktu luang Gati diberikan sepenuhnya kepada sang suami tersayang. 

Tak ada sesuatu yang mewah ataupun berlebihan saat Gati menghabiskan waktu kebersamaan bersama suami. Biasanya, Gati akan menyajikan beberapa menu sarapan buatannya sendiri untuk sang suami. Setelah itu, keduanya akan larut dalam perbincangan santai membahas berbagai hal yang menarik untuk dibicarakan.

"Di situ kami habiskan waktu untuk mengobrol, karena kalau malam biasanya saya pulang dia sudah tidur, atau dia pulang saya sudah tidur. Saya sepanjang hari kerja paling ketemu suami itu dua jam. Satu jam di pagi, lalu malam sebelum tidur 1 sampai 1,5 jam. Jadi secara intens itu sehari ketemu suami cuma 2,5 jam," ucapnya. 

Akhir pekan menjadi waktu yang ditunggu-tunggu oleh Gati dan suami. Di saat itulah keduanya bisa meluangkan waktu lebih lama untuk bersama. Gati dan suami biasanya lebih memilih untuk pergi jalan-jalan berdua baik di sekitaran Jakarta maupun ke luar kota. Bila ada kesempatan untuk pelesir ke luar kota, hal yang tidak pernah dilewatkan oleh keduanya adalah menikmati kuliner khas daerah tersebut. Memang sederhana, tapi liburan semacam ini cukup memberikan makna dan kesan tersendiri bagi Gati dan sang suami.

Selain menjalin kebersamaan dengan sang suami, Gati juga memanfaatkan sedikit waktu luangnya untuk menjalani hobi, yaitu berolahraga. Sejak remaja Gati memang sudah senang berolahraga. Salah satu olahraga favoritnya adalah bermain tenis. Olahraga tersebut terus ditekuninya hingga 15 tahun yang lalu. Meskipun tidak sampai menjadi petenis profesional, namun perempuan yang mengidolai petenis dunia Steffi Graf tersebut kerap menjuarai ajang kejuaraan tenis, terutama yang diselenggarakan di lingkungan Kementerian Perindustrian. 

Setelah cukup puas menekuni hobi bermain tenis, Gati kemudian beralih menjadi seorang pegolf. Kegiatan olahraga ini dia jalani sejak sekitar 10 tahun yang lalu. Ada kesenangan tersendiri yang dia rasakan ketika bermain olahraga ayun stik tersebut. Selain menyehatkan tubuh, bermain golf juga bisa melatih emosi dalam dirinya. 

"Golf itu olahraga yang mengajarkan kita untuk belajar bersabar, belajar jujur. Golf juga bisa sebagai ajang rekreasi, dan kita juga bisa berinteraksi dengan orang lain lebih intens. Tapi saya berhenti main golf sejak enam tahun lalu," ucap Gati. 

Karena faktor kesibukan dan juga usia, Gati kini lebih memilih melakukan olahraga yang lebih ringan. Di waktu pagi sebelum berangkat kerja, dirinya akan menyempatkan diri untuk berolahraga kardio seperti lari di atas treadmill ataupun bersepeda statis. Kedua olahraga ini cukup efektif untuk menjaga kebugaran tubuhnya. 

Sebagaimana perempuan pada umumnya, Gati juga gemar mengoleksi produk fesyen. Pilihan koleksinya jatuh kepada kekayaan kain warisan nusantara (wastra) Indonesia. Ya, sejak sekitar lima tahun yang lalu, perempuan penikmat kopi tersebut sudah mulai mengoleksi kain wastra dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Sabang hingga Merauke. Dirinya tidak ingat betul sudah ada berapa banyak koleksi kain wastra yang dimilikinya. Namun bila dikumpulkan, butuh sekitar empat mari untuk bisa menyimpan koleksi kain wastra miliknya itu. 

"Bagus-bagus lho kain-kain Indonesia itu. Saya enggak bisa bilang yang mana yang paling favorit, karena semuanya indah, semuanya bagus. Bingung kalau harus menentukan. Tapi kalau menentukan kualitas, saya harus pegang (kainnya) dulu. Kebetulan saya orang tekstil kan, jadi saya tahu," ungkapnya. 

Arti Sebuah Kesuksesan

Gati tentu bersyukur bisa menjabat posisi sebagai Dirjen Industri Kecil dan Menengah di Kementerian Perindustrian. Namun dirinya tidak memaknai hal itu sebagai sebuah kesuksesan. Gati lebih memaknai jabatan tersebut sebagai sebuah berkat dan titipan dari Tuhan. 

"Kesuksesan itu kalau saya bisa bikin orang lain bahagia. Itu menurut saya kesuksesan. Jadi kalau kita tidak bisa berbuat untuk memajukan orang lain, itu bukan kesuksesan. Buat apa kesuksesan bagi diri sendiri, itu tiada guna. Jadi saya paling senang, paling bahagia kalau lihat orang lain bahagia," tutur Gati.

"Kalau soal karir, ini sebenarnya titipan. Yang penting adalah apa yang kita perbuat untuk orang lain. Jadi saya bersyukur, saya bisa jadi saluran berkat bagi orang lain. Jadi sebenarnya kadang-kadang kita ingin buat orang lain bahagia, belum tentu maksud kita bagus untuk membuat orang lain bahagia, tapi caranya salah. Tetap belajar dan belajar itu masih terus saya lakukan," tutupnya. 

 

Teks : Fathur Rochman
Editor : Maria Cicilia Galuh
Foto : Chairul Rohman

 

Baca Juga




Baca Juga

Kisah Semangat Atlet Wanita Taekwondo Arab Saudi
19 04 2018
Ini Dia Sosok Kartini Jaman Now Yang Menginspirasi
9 04 2018
Berbagi Pengalaman Bersama Para Perempuan Inspiratif
9 04 2018
Cara Hana Madness Berdamai dengan Bipolar
27 03 2018