Dibaca 1678 kali
...
no tags
Anggarini Paramita
16 November 2017

Jakarta, GoHitz.com - Banyak cara yang bisa dilakukan untuk berkontribusi kepada bangsa dan negara tercinta. Salah satunya lewat bidang pariwisata. Hal itulah yang dilakukan oleh pengusaha Johnnie Sugiarto. Lewat Yayasan El John Indonesia, Johnnie berupaya untuk mengharumkan nama Indonesia di panggung dunia, terutama pada bidang pariwisata. 

GoHitz berkesempatan melakukan wawancara ekslusif dengan Johnnie di kantor Yayasan El John Indonesia, APL Tower Lantai 16, Jalan Letjen S. Parman, Jakarta Barat, beberapa waktu. Melalui proses wawancara yang berlangsung cair, Johnnie bercerita panjang lebar mulai dari awal terbentuknya Yayasan El John Indonesia, sepak terjang putri pariwisata di pentas dunia, hingga upayanya memajukan berbagai sektor pariwisata Indonesia lewat putri-putri El John Pageants yang dimilikinya. 

GoHitz (G): Pak Johnnie, mungkin bisa diceritakan apa itu Yayasan El John Indonesia dan El John Pageants

Johnnie (J): Nama yayasannya adalah yayasan El John Indonesia. Di bawah yayasan El John Indonesia kami punya beberapa divisi. Ada divisi yang khusus di pendidikan. Jadi, kita punya sekolah wisata. Kami punya pembinaan tentang budaya dan pembinaan sumber daya manusia (SDM). Di pembinaan SDM itulah ada divisi El John Pageants. Jadi El John Pageants berada di bawah naungan Yayasan El John Indonesia.

G: Kapan keduanya terbentuk?

J: Yayasan El John Indonesia sudah dibentuk sejak tahun 1990. Sementara El John Pageants ada sejak 2008. 

G: Bagaimana awal mula terbentuknya Yayasan El John Indonesia?

J: Jadi, awal muasalnya saya melihat begitu banyak orang bercerita tentang SDM, tentang pariwisata. Tetapi pada saat itu sekolah pariwisata masih sedikit, kecuali sekolah pariwisata NHI yang punya pemerintah di Bandung. Yang lain-lain belum banyak. Saya pikir kalau saya mau mendorong Indonesia sebagai ujung tombaknya pariwisata tentu harus ada SDM-SDM pada bidang pariwisata. Maka, saya dirikan Yayasan El John Indonesia. divisi pertama yang kami dirikan adalah pendidikan. Kami membuat SMK El John, Sekolah Menengah Kejuruan jurusan pariwisata. Jadi fokus untuk mendorong kepariwisataan Indonesia melalui pengembangan SDM. Itu awal muasal untuk apa yayasan ini didirikan.

G: Lantas apa background pekerjaan Anda sendiri?

J: Saya murni swasta. Belum pernah bekerja di pemerintahan. Jadi swasta murni. 

G: Tapi mengapa Anda sangat concern terhadap pariwisata di Indonesia? 

J: Betul yang menjadi concern saya sebenarnya adalah masalah lingkungan. 

G: Kenapa? 

J: Karena kalau kita bicara pariwisata atau bicara bisnis, semua orang menginginkan bisnis itu berkesinambungan. Semua usaha harus dijalankan secara berkesinambungan. Kalau usaha itu tidak berkesinambungan maka investasi itu akan sia-sia. Kita mengetahui bahwa kalau investasi balik modalnya ada yang 8 tahun, ada yang 10 tahun. Kalau dia tidak sustainable maka dia akan hilang investasinya. Jadi masalah lingkungan adalah masalah penting. Turis makin hari makin pintar. Masyarakat makin hari makin pintar. Kalau ada produk yang merusak lingkungan, masyarakat bisa-bisa tidak mau lagi pakai produknya dia. Jadi masyarakat tidak akan membayar pengusaha untuk produknya, yang akhirnya dengan uang produk itu dia merusak lingkungan. Jadi barang siapa yang merusak lingkungan, pasti produknya akan mati. Saya punya kepentingan bagaimana mendorong masyarakat supaya lebih memperhatikan lingkungan. Dimulai dari diri dia sendiri bagaimana membuang sampah di tempatnya, mulai dari diri dia bagaimana mengontrol penggunaan misalnya tisu tidak berlebihan, memakai konsumsi listrik tidak berlebihan, memakai air tidak berlebihan, jadi semuanya harus dalam batas kewajaran. Kalau lingkungannya tidak bagus, misalnya ada satu pasar kuliner, banyak turis yang datang tapi disitu jorok, banyak lalat, jorok. Mungkin turis yang datang sekali tidak mau lagi datang walaupun makanannya enak. Karena perasaannya pasti tidak enak kan. Jadi kami berharap bahwa semua orang harus mempunyai perhatian yang cukup untuk masalah lingkungan.

G: Sampai pada akhirnya di tahun 2008 Anda membuat sebuah divisi baru?

J: Ya, yang namanya divisi El John Pageants. 

G: Apa ide di balik dibentuknya divisi El John Pageants tersebut?

J: Nah, idenya itu saya setiap kali melihat Indonesia selalu semangatnya luar biasa bercerita tentang pariwisata. Tetapi pada saat di internasional, di panggung-panggung internasional, tidak ada tuh Indonesia ikut kompetisi. Misalnya saja, ada pertandingan Miss Tourism Internasional yang levelnya dunia, Indonesia tidak pernah kirim wakilnya. Jadi saya pikir saya harus berbuat sesuatu supaya dunia internasional mengenal Indonesia. Oleh karena itu, dibuatlah satu divisi yang namanya divisi El John Pageants. Di El John Pageants itu kami membuat suatu program kerja namanya "Indonesia di Panggung Dunia". Pada saat kami buat program itu tentu kita harus fokus. Fokusnya apa? Fokusnya kami membuat tagline "Bringing Indonesia Culture to The World". Jadi, fokusnya tadi kami bicara masalah budaya "Bringing Indonesia Culture to The World". Kenapa? Karena kalau kami bertanding ke luar negeri pendekatannya kan banyak. Ada yang pendekatannya kecantikan, ada negara tertentu mungkin yang selalu dia tonjolkan adalah misalnya fashion. Tiap negara mempunyai pendekatan yang berbeda. Saya ingin kalau yang dikirim melalui saya fokusnya adalah budaya. Jadi kami selalu fokusnya budaya. Sehingga dunia internasional mengenal Indonesia itu adalah negara yang kaya akan budaya. Jadi, dengan program Indonesia di panggung dunia, jujur saja dalam 10 tahun ini, kalau setahun itu kami kirimkan 15 orang, 10 tahun sudah 150 orang yang kami kirim ke berbagai ajang. Dan di setiap ajang itu yang ikut antara 70 negara sampai 100 negara. Itulah kontribusi saya melalui Yayasan El John Indonesia memperkenalkan Indonesia di panggung dunia. 

G: Apakah ada kerja sama antara Yayasan El John Indonesia dengan Pemerintah?

J: Kerja sama dalam hal terbatas iya. Di dalam negeri kalau ada tugas, mereka berikan kepada putri putri untuk bertugas dan diberikan honor. Tetapi dalam pengembangan secara masif, artinya tiap tahun ada bantuan berapa, itu sama sekali tidak ada. Semua murni dari Yayasan El John Indonesia. Bahkan kami mengirim 15 putri ke internasional itu tidak ada bantuan dari Pemerintah. 

G: Apa Anda tahu alasan dari Pemerintah?

J: Saya tidak tahu persis, tetapi tiap kali kalau saya mengajukan, alasannya cuma tidak ada anggaran. Jadi kami bekerja sendiri selama 10 tahun ini. 

G: Lalu dari mana dana yang diperoleh dari Yayasan El John Indonesia? 

J: Jadi Yayasan El John Indonesia ini di dukung oleh industri. Misalnya El John sendiri sudah punya 6 resort hotel. Kita punya bisnis tourism, punya majalah, punya bisnis kesehatan. Nah dari bisnis-bisnis inilah sebagian keuntungan dimasukkan ke Yayasan El John Indonesia

G: Bila berbicara tentang putri-putri El John Pageants, seperti apa perkembangannya hingga saat ini?

J: Saya kira kalau kami lihat dari kualitasnya semakin bagus, karena selama 10 tahun ini semakin banyak peserta. Jadi kalau awalnya dari 30 sekian provinsi, yang ikut paling 20 provinsi, kalau sekarang 34 provinsi setiap tahunnya full. Bahkan kalau kami menyelenggarakan di daerah, kalau kami lagi audisi, yang masuk bisa ratusan. Jadi contohnya kami menyelenggarakan The Supermodel Indonesia. The Supermodel itu kami cuma mau cari satu pemenang. Tapi yang daftar sudah lebih dari 200 orang. Jadi minat masyarakat generasi muda terhadap aktivitas-aktivitas pageants ini kelihatannya terus bertumbuh dan baik. Dan ternyata di dunia pageants itu ajang bagi mereka meningkatkan kualitas diri. Mereka punya panggung, mereka makin sering naik panggung. Terus, bagi yang serius mereka mendapatkan banyak income dari situ, karena tiap tugas kan pasti ada honornya. Jadi mereka dapat banyak income dari situ. Sehingga bagi mereka ini sesuatu yang sangat menjanjikan. Ini menjadi batu loncatan. Selama mereka mengikuti kegiatan pembekalan, training-training internal itu semua di biayai oleh Yayasan El John Indonesia. 

G: Apa yang menjadi kelebihan putri-putri pariwisata kita dibanding putri pariwisata dari negara lain?

J: Pertama, anak-anak Indonesia yang masih bisa kita banggakan adalah attitude. Jadi attitude anak-anak Indonesia ini sopan santun, hormat terhadap sesama manusia itu masih sangat kental. Dibandingkan dengan anak-anak dari Eropa dari Amerika yang kadang-kadang individualistiknya itu tinggi sekali. Jadi dia tidak peduli sama orang lain. Kalau anak-anak Indonesia ini kan masih santun, ramah, jadi attitude-nya masih sangat kita banggakan. Itu mencerminkan seorang wanita Indonesia yang ramah, yang sopan, itu saya pikir masih menjadi ujung tombak. Itulah sebenarnya yang ingin kami promosikan sebagai budaya seorang wanita Indonesia. 

G: Sebaliknya, apa yang harus ditingkatkan oleh putri-putri pariwisata Indonesia ketika tampil di panggung dunia?

J: Indonesia itu sering punya kekurangan. Kekurangan kita adalah kurang tinggi. Kalau kita lihat peserta-peserta dari luar negeri itu tingginya 175 cm, 178 cm, 180 cm, anak Indonesia itu 165 cm saja tingginya dia sudah merasa tinggi. Mereka 170 cm rasanya sudah tinggi sekali. Pada saat bertanding di luar negeri dan berdiri di atas panggung, itu dia jadi pendek sendiri. Ini membuat mereka jadi kurang percaya diri. Itu problemnya?

G: Bila dilihat dari segi kemampuan, apakah putri-putri pariwisata kita kalah?

J: Tidak, dari skill kami tidak kalah. Terus yang paling hebat lagi kami punya perancang-perancang yang bagus dan jago-jago. Dari seluruh pageant yang dikirim ke internasional, saya pikir 60 persen yang namanya national costume, pakaian tradisional kita itu dimenangkan oleh Indonesia.

G: Lalu, apa prestasi terbaik yang telah diraih putri pariwisata Indonesia di pentas dunia?

J: Prestasi terbaik kami punya Miss Tourism Asean 2012, kita punya runner up Miss Tourism Queen of The Year dunia dari 102 negara kita nomor 2. Kami pernah dapat The Supermodel Internasional yang bertanding di Korea Selatan kita jadi juara dunia. Kami pernah menjadi Miss Tourism Asia Pasific, dan berbagai predikat-predikat lainnya yang dimenangi Indonesia sudah banyak sekali. 

G: Berarti prestasi-prestasi yang diharapkan selama ini satu persatu sudah mulai diraih?

J: Iya. 

G: Lantas apakah prestasi-prestasi ini sudah memenuhi target dari El John Pageants itu sendiri?

J: Nah, saya mungkin banyak berbeda pendapat dengan teman-teman terutama dari pageant lovers. Saya tidak menargetkan mereka untuk jadi juara dunia, karena dari awalnya misi kami adalah Indonesia di panggung dunia. Jadi misi kami adalah jangan sampai ada event besar dimana semua negara disebut, tapi nama Indonesia tidak ada. Itu yang terjadi sebelum saya terjun ke kegiatan ini. Saya banyak diundang ke event-event internasional tetapi nama Indonesia tidak disebut. Nah target saya adalah membawa nama Indonesia ke panggung dunia. Jadi Indonesia di sebut dulu, hadir dulu disana. Nah, setelah itu kalau sudah hadir, fokus kami apa? Fokus kami bukan hanya menang, fokus kami adalah mempromosikan budaya Indonesia. Oleh karena itu yang saya kejar adalah budayanya. Makanya yang kita kejar itu hampir 60 persen semuanya di tangan kita. Dari 100 negara kita juara pertama. Kan luar biasa itu. Kalau tidak juara pertama, ya kita juara kedua. Nah dari budaya seperti itu saya yakin orang akan mengenal Indonesia bahwa Indonesia itu adalah salah satu negara dengan budaya yang paling atraktif, yang paling disukai oleh orang. Akhirnya turis datang karena budaya itu. 

G: Dan Anda sudah cukup puas dengan apa yang sudah diraih saat ini?

J: Oh ya saya sudah cukup puas dengan itu. Tapi tentu kami tidak boleh karena puas, terus kami tidak improve. Saya harus terus melakukan improve - improve. Itulah salah satu sebab mengapa kerjasama dengan LKBN Antara, ingin agar kegiatan ini tersebar lebih luas kepada seluruh masyarakat Indonesia melalui bantuan dari LKBN Antara, melalui GoHitz. Dengan demikian kalau pesertanya makin banyak, pesertanya makin mengetahui apa maksud dan tujuan penyelenggara itu, maka otomatis yang datang kualitasnya akan makin baik dan makin baik lagi. Terus, kami juga bisa memilih yang terbaik di antara yang baik. Ini akan memberikan dampak menurut saya untuk meningkatkan kualitas-kualitas. Lalu di lain pihak kami juga tidak pernah berhenti untuk improve kualitas-kualitas putri-putri kami. Oleh karena itu kami bekerja sama dengan banyak pihak. Kami sudah tanda tangan kerja sama dengan Global Compact. Itu sebuah organisasi di bawah PBB yaitu mengenai masalah lingkungan. Kami belajar masalah lingkungan dari badan PBB. Itu saya yakin tidak salah karena mereka kan pakarnya. Jadi kami kerjasama untuk memberikan pengetahunan-pengetahuan kepada para putri bahwa betapa pentingnya lingkungan itu bagi generasi muda. Karena yang diwariskan bumi ini kepada generasi muda. Jadi jangan sampai yang generasi tua ini merusak lingkungan, terus generasi muda waktu dia sudah sampai ke saat dia harus menjabat atau dia harus berprestasi, bumi sudah ditinggali dalam kondisi berantakan. Nah jadi ini harus kami teruskan pengetahuan-pengetahuan dan aksi-aksi secara nyata. Semua orang kami harapkan ikut ambil bagian dalam pelestarian lingkungan.

G: Lalu seperti apa apresiasi negara terhadap usaha keras Anda selama ini?

J: Saya beberapa kali mendapatkan penghargaan dari Pemerintah. Jadi saya pikir 7-8 tahun yang lalu saat pak Hatta Rajasa masih menjadi Menteri Koordinator Perekonomian, saat hari Sumpah Pemuda saya diberi penghargaan sebagai yayasan yang memberikan kontribusi besar bagi generasi muda Indonesia, karena banyak prestasi-prestasi yang kami lakukan. Itu salah satu penghargaan dari pemerintah pada saat itu. Jadi saya pikir itu kami sangat apresiasi, sangat menghargai, walaupun target kami bukan itu. Karena target kami adalah kami berbuat secara ikhlas untuk membantu generasi muda, untuk membantu Indonesia sebatas kemampuan kami sebagai swasta. Apa yang bisa kami lakukan kami lakukan.

G: Di tingkat nasional sendiri, apa langkah-langkah selanjutnya yang akan Anda lakukan agar penyelenggaraan pemilihan Puteri Pariwisata di Indonesia bisa semakin semarak?

J: Saya melihat sebenarnya di Indonesia ini masih banyak sekali kegiatan-kegiatan yang belum mempunyai endorser. Jadi misalnya kami melihat bahwa cokelat yang ditanam di Indonesia yaitu pohon kakao, itu ternyata tidak dibarengi dengan industri hilirnya. Kalau kita lihat di negara lain, banyak yang tidak menghasilkan kakao, tapi mereka justru bikin cokelat yang banyak. Kalau kita lihat di airport cokelatnya bagus-bagus, tapi itu bahan bakunya dari Indoensia. Akhirnya, saya ingin mendorong itu dan saya bikinlah yang namanya Miss Kakao Indonesia. Nah itu kami berperan aktif. Kalau ada kegiatan-kegiatan kakao kami promosikan. Kami inginnya ada industri kakao yang modern di Indonesia. Kami ingin misalnya kalau orang mau pergi kemana-mana, di airport itu misalnya ada toko kakao made in Indonesia. Semua produknya dari Indonesia. Jangan produk-produknya import. Terus kalau orang ke luar negeri bawa oleh-olehnya adalah kakao Indonesia, cokelat Indonesia. Itu juga yang saya dorong melalui Miss Coffee, Miss Tea. Lantas saya juga melihat olahraga. Olahraga itu kan sebenarnya paradigmanya sudah berubah. Paradigma lama kalau orang bicara event olahraga pertama-tama ditanyakan adalah anggarannya berapa. Pasti cari uang dulu, kalau olahraga carinya uang dulu. Padahal olahraga itu banyak yang justru menguntungkan, bukan minta uang. Nah paradigma itu harus diubah. Kami melihat begitu banyaknya, misalnya katakanlah Jakarta marathon. Itu kan swasta, itu kan menghasilkan banyak uang, menghasilkan kegiatan yang luar biasa. Maka saya bikinlah yang namanya Miss Sport Tourism. Terus kami juga mendorong makanan asli Indonesia. Kami akhirnya bikin Miss Culinary Indonesia. Kami bekerja sama dengan banyak mall untuk melakukan pekan kuliner, bulan kuliner. Kalau Anda perhatikan teaser iklannya itu dari Yayasan El John Indonesia semua itu. Kami juga mendorong ada yang namanya Miss Marine Tourism. Kami mencoba membantu para nelayan Indonesia. Kami mencoba mengajak orang-orang yuk main ke laut, main ke pesisir. Kalau turis-turis banyak main ke laut, nelayan yang tadinya bawa perahu itu bisa jadi tour guide dan membawa mereka jalan-jalan. Itu kan uangnya lebih banyak. Kalau mereka tadinya menangkap ikan buat dibakar, mungkin dia bawa turis melihat ikan, ikannya tidak usah ditangkap, tapi uangnya mengalir terus. Itu yang kami dorong kepada masyarakat pesisir. Kami ingin mereka hidupnya lebih sejahtera karena berada di pinggir pantai. Karena adanya di poros maritim, jangan jadi miskin di maritimnya. Itu yang kami dorong. 

G: Apa yang membuat Anda menjadi sangat nasionalis dan cinta sekali pada Indonesia?

J: Kita lihat banyak pakar-pakar lingkungan seperti Pak Emil Salim. Beliau berjuang sampai tua secara konsisten di bidang lingkungan. Kita lihat banyak tokoh-tokoh maritim Indonesia tetapi sampai sekarang masih belum seperti apa yang mereka impi-impikan. Saya pikir semua rakyat Indonesia yang bisa berperan, marilah jangan hanya mengeluh, jangan hanya menyalahkan si A dan si B. Mari semua orang berbuat sekecil apapun perbuatannya untuk negara ini, itulah kontribusi. Kalau satu orang sedikit, kalau semua manusia Indonesia ini ikut berperan kan jadi banyak. Janganlah hanya tahu mencari kesalahan orang, hanya tahu mengeluh, akhirnya tidak berbuat apa-apa karena mengeluh melulu. Saya juga begitu. Banyak kemarin wartawan bertanya kan 'Pemerintah sudah berikan apa kepada pak Johnnie?' Itu bukan target saya. Diberikan oke, tidak diberikan oke, dihargai oke, tidak dihargai juga oke. Yang penting saya bisa berbuat apa untuk negara ini, ya sudah saya buat. Setiap kali ada pertemuan dengan wartawan pasti itu pertanyaannya. 'Kenapa kalau kamu berbuat sesuatu begitu banyak tapi Pemerintah diam saja?' Terus kalau Pemerintah diam, saya harus stop? Terus saya harus ngeluh, saya harus nangis-nangis? Ya kan tidak. Saya bilang, nanti pada suatu saat bila Pemerintah sudah melihat ini positif, pasti saya dipanggil, pasti saya dihargai. Tapi saya tidak boleh minta-minta, karena tujuan kami kan bukan itu. Tujuan kami adalah memberikan kontribusi positif buat bangsa, negara dan rakyat. Apa yang bisa berikan? Yang bisa kami berikan cuma segitu, ya sudah itulah maksimal yang bisa kami berikan. Dan kami berusaha untuk mengajak. Nah generasi muda itulah yang saya ajak. 

G: Terakhir, apa kegiatan terdekat yang akan dilakukan oleh El John Pageants?

J: Kami sudah kerja sama dengan BNN. Nanti semua putri-putri akan kami gerakkan di tahun depan untuk pergi ke sekolah-sekolah. Mereka akan mensosialisasikan bahaya penyalahgunaan narkoba. Jadi kami ingin menyelamatkan generasi muda, mulai dari SD, SMP, SMA. Jadi putri-putri kami punya program. Misalnya satu tahun pergi ke 100 sekolah, kami akan keliling ke sekolah-sekolah. Kami akan mengajak mereka bercanda. Kami akan kasih video-video pendek melihat orang yang kena narkoba itu bagaimana susahnya, bagaimana dia terpuruk setelah kena narkoba, hidupnya hilang harapan, hilang cita-cita, nah kami akan datangi ke sekolah-sekolah. Itu yang sudah kami buat program kerja bersama BNN. Tahun depan kita laksanakan. Kami juga sedang berpikir pada tahun depan akan melaksanakan lomba foto tingkat nasional untuk human interest dan objek wisata.

Teks : Fathur Rochman
Editor : Paramita
Foto : Chairul Rohman

 

Baca Juga




Baca Juga

PerpuSeru Lahirkan Inspirator-Inspirator Luar Biasa
15 12 2017
Adek Berry, Sosok Perempuan Tangguh Dibalik Foto-Foto Perang
11 12 2017
Mengenal Gati Wibawaningsih, Sosok Srikandi dalam Jajaran Dirjen Kemenperin
22 11 2017
Sidney Amanda Ramandita Tak Lelah Kenalkan Batik Ke Seluruh Indonesia
13 11 2017