...
no tags
Anggarini Paramita
14 May 2018

Jakarta, GoHitz.com – Melalui kerja sama di bidang politik, pertanian, pendidikan, dan kebudayaan, dapat dikatakan hubungan kenegaraan antara Indonesia dan Taiwan terbilang sangat erat. Hal ini pun diperkuat dengan data Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), yang menyebutkan Taiwan sebagai negara tujuan terbesar kedua bagi Buruh Migran Indonesia (BMI), setelah Malaysia.

Di tengah banyaknya kisah pilu buruh migran Indonesia di beberapa negara akibat buruknya sistem perekrutan dan perlindungan yang kurang memadai, ada sosok yang cukup memiliki pengaruh bagi kalangan BMI di Taiwan. Yup, dia adalah seorang wanita Indonesia yang akrab dipanggil Jia Jia oleh orang Taiwan atau Mbok Cikrak oleh para BMI.

Meski bukan menjadi perpanjangan tangan resmi dari pemerintah Indonesia, kepopuleran Mbok Cikrak ini ternyata tidak main-main lho. Perempuan yang konon berasal dari Indramayu, Jawa Barat, ini dikenal hampir oleh 250 ribu buruh migran Indonesia yang bekerja di berbagai sektor informal di Taiwan.

“Saya masih berusia 18 tahun saat datang pertama ke Taiwan, setelah tamat SMK. Awalnya, saya bekerja sebagai perawat orangtua selama 3 tahun. Kemudian, sempat pulang ke Indonesia satu tahun karena ibu sakit. Setelah itu ketemu suami, menikah, dan akhirnya sekarang bantu-bantu usaha suami di bidang travel,” ujar wanita yang bersuamikan WNA Taiwan ini.

Awal keterlibatannya sebagai penolong para BMI di Taiwan, khususnya di Bandara Taouyan, bermula dari tugas biro travel sang suami untuk mengurusi para BMI yang hendak pulang ke Indonesia. “Biasanya karena agen di Taiwan yang tidak peduli lagi setelah teman-teman BMI mendapat uang gaji dan tiket pulang. Padahal, banyak BMI yang bingung harus berbuat apa, bagaimana prosedur di bandara, dan semacamnya. Tidak sedikit juga teman-teman yang tertipu pada akhirnya,” jelas ibu dari 2 anak ini.

Akhirnya, perjalanan Mbok Cikrak sebagai ibu para BMI di Taiwan pun mulai bergulir sejak hari itu. “Sudah hampir 10 tahun saya kerja di bandara, sampai-sampai pernah dijuluki calo bandara. Tugas saya setiap hari adalah memandu teman-teman BMI sejak pembagian tiket, paspor, dan identitas kependudukan, sebelum mereka check in dan boarding,” paparnya.

Tak hanya menjelaskan prosedur menghadapi urusan bea cukai, menemukan gate keberangkatan, atau kelebihan bagasi; Mbok Cikrak juga menjelaskan tentang aturan-aturan di pesawat. ‎"Yang enggak boleh dibawa pulang ke Indonesia, kadang-kadang temen-temen bawa senter, raket listrik, kipas angin. Soalnya barang-barang itu di pasar malem sini kan murah banget. Jadi mereka bawa buat di kampung. Ternyata enggak boleh dibawa pulang harus dikargoin," ujarnya dengan logat Banyumasan yang kental, karena kampung halamannya di Kroya, Jawa Tengah.

Seiring dengan perkembangan teknologi, Mbok Cikrak juga menggunakan media sosial untuk mengembangkan jasanya. “Mbok memanfaatkan apa yang ada, mulai dari Facebook, Youtube, hingga Bigo Live. Dari situ, Mbok melayani pertanyaan sampai ‎sesekali menghibur agar penonton tak bosan. Jadi mereka tanya, kan aku bisa langsung jawab, kasih saran. Pokoknya memanfaatkan apa yang ada," kata wanita yang identik dengan topi berlogo NY ini.

Memakai nama akun Mbok Cikrak, Jia Jia memiliki 213ribu lebih penggemar di fans page Facebooknya. Bahkan ia juga memiliki grup Bigo bernama Cikrak Gaul Club (CGC) yang beranggotakan 200 orang lebih. “Nama Mbok Cikrak itu, saya artikan, sebagai mbok-mboknya para pahlawan devisa negara atau mboknya para TKI ini. Mereka bisa mencurahkan apa saja kalau ada masalah, sejauh itu bisa saya bantu, ya pasti saya bantu,” imbuhnya.

‎Dari layanan konsultasi di Bigo, Mbok mengaku bisa mendulang pendapatan hingga Rp 15 juta per bulan. Belum lagi, pemasukan dari usaha kosmetik yang dijalankan bersama keluarganya. Namun, pundi-pundi uang itu tak hanya ia nikmati seorang. Melalui yayasan yang didirikannya, Mbok Cikrak membantu kehidupan sekitar 200 anak yatim di beberapa daerah di Indonesia.

Mbok Cikrak yang juga memiliki keahlian sebagai konsultan kecantikan di jaringan Mary Kay ini, memberi saran bagi para pekerja migran Indonesia di Taiwan untuk pandai-pandai memanfaatkan teknologi, khususnya internet.

"Lalu, bila ada masalah  dengan majikan, jangan langsung kabur. Karena kalau kabur dan tertangkap, biasanya akan langsung dideportasi dan sangat sulit untuk kembali lagi bekerja di Taiwan. Lebih baik hubungi lembaga konseling atau KJRI untuk membantu menyelesaikan masalah dengan majikan,” tandas Mbok Cikrak.

Teks : Paramita
Foto : Ist

 

Baca Juga




Baca Juga

Cerita Inspiratif Kevin Naftali Sang Pendiri Kevas Co.
20 05 2018
Kisah Menarik Dua Pejuang Air Lestarikan Lingkungan
3 05 2018
Kegigihan Nadine Sebagai Kartini Jaman Now
19 04 2018
Haifaa Al-Mansour, Sutradara Wanita Pertama dari Arab Saudi
20 04 2018