...
no tags
Anggarini Paramita
26 November 2017

Jakarta, GoHitz.com – Sebagai negara berkembang, permasalahan tentang gizi pada anak-anak ternyata menjadi salah satu hal yang masih terabaikan, misalnya kekurangan zat gizi seperti anemia. Tak hanya terjadi pada orang dewasa, anemia juga banyak menyerang anak usia balita dan usia sekolah. Dari hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) melaporkan kejadian anemia terjadi hingga sebesar 48,1% pada kelompok usia balita dan 47,3% pada kelompok usia anak sekolah.

Hal itu diungkapkan Jansen Ongko MSc., RD, konsultan gizi dan Founder Lagizi Health & Nutrition Services. “Anemia terjadi karena kurangnya zat besi dalam tubuh, sehingga cadangan zat besi untuk pembentukan sel darah merah berkurang yang menyebabkan kadar hemoglobin pada darah kurang dari normal. Pada fase awal penyakit, anemia pada anak tidak menunjukkan gejala, hanya saja dapat menimbulkan prilaku makan yang tidak biasa seperti mengonsumsi es batu, tepung, tanah, rumput, dan daun-daunan. Kondisi ini biasanya pulih setelah anemia teratasi dan anak tumbuh dewasa,” ujarnya.

Jika anemia terus berlanjut, sambungnya, sel darah yang membawa oksigen akan berkurang dan menyebabkan tubuh kekurangan pasokan oksigen. “Akibatnya, organ tubuh tidak berfungsi dengan baik, sehingga timbul berbagai gejala seperti anak menjadi mulai lemas, lelah, lesu, kulit terlihat pucat, kuku jari tangan pucat, sesak napas, berat badan tidak naik optimal bahkan dapat terjadi penurunan berat badan. Anak juga rentan terkena infeksi karena menurunnya sistem kekebalan tubuh,” urai Jansen.

Selain itu, berkurangnya kandungan besi dalam tubuh juga dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan organ tubuh akibat oksigenasi ke jaringan berkurang. “Anemia Defisiensi Besi (ADB) juga berdampak buruk pada otak karena dapat menyebabkan transfer oksigen terhambat, kecepatan hantar impuls syaraf terganggu, serta gangguan perilaku dan konsentrasi. Sehingga, anak akan mengalami penurunan daya konsentrasi, daya ingat rendah, dan tingkat IQ yang rendah,” jelasnya.

Melihat dampak anemia yang cukup serius pada anak, Jansen menegaskan perlunya mengajarkan dan membiasakan anak untuk mengonsumsi makan sehat dan bervariasi. “Utamanya, pilihlah bahan pangan yang tinggi akan kandungan zat besi, folat, vitamin B12 dan vitamin C. Vitamin B12 bermanfaat untuk melepaskan folat, sehingga dapat membantu pembentukan sel darah merah, seperti daging, susu, dan hati. Sedangkan, vitamin C penting dikonsumsi penderita AGB karena dapat membantu penyerapan zat besi, misalnya jambu biji, apel, jeruk, dan bayam,” sebutnya.

Sedangkan untuk mendapatkan asupan zat besi,  paling banyak terkandung dalam kelompok lauk-pauk, seperti hati, daging sapi, telur, dan ikan sebagai sumber protein hewani yang mudah diserap. “Bisa juga dari kelompok zat tepung, yaitu gandum, jagung, kentang, ubi jalar, talas, beras merah atau putih, dan ketan hitam. Atau juga dari kelompok sayuran terdiri dari kacang-kacangan, kismis, tahu, dan kacang mete. Dan terakhir, dari kelompok buah, terdapat pada kurma, apel, jambu, pepaya, belimbing, alpukat, nangka, salak, dan srikaya,” tandas Jansen.

Foto : Nuts.com
     
     

 

Baca Juga




Baca Juga

Cuci Tangan Turunkan Risiko dari Paparan Kuman
15 12 2017
Setelah Melahirkan, Segera Pasang KB
15 12 2017
UHT, Susu nan Praktis dan Sehat
16 12 2017
Ada Selaput Putih di Amandel, Awas Difteri!
15 12 2017