...
no tags
Anggarini Paramita
20 September 2017

Jakarta, GoHitz.com – Shanti Persada tidak pernah membayangkan bahwa dirinya didiagnosa terkena kanker payudara stadium 3B pada tahun 2010. Bahkan, ia mengonfirmasi kepada enam dokter onkologi di RS Dharmais, benarkah dirinya terkena kanker payudara. Ternyata, semua dokter tersebut menyatakan Shanti positif menderita kanker payudara. Ia tidak menyerah begitu saja, semua pengobatan dilakukan, termasuk kemoterapi dari enam hingga delapan kali banyaknya. Kini, Shanti menjadi penyintas kanker payudara dan ia mendirikan Lovepink, komunitas para penyintas kanker dan penderita kanker untuk saling menguatkan dan memberikan informasi mengenai kanker dan pencegahannya. Tentu cerita Shanti ini menginspirasi bagi kaum hawa untuk sedini mungkin melakukan SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri) dan SADANIS (Pemeriksaan Payudara Klinis).    

Diakui oleh Dr. Bob Andinata, Sp.B (K) Onk, dokter onkologi dari Perhimpunan Ahli Bedah Onkologi Indonesia bahwa dari 10 orang yang datang berobat pada kanker stadium 4, maka yang masih hidup itu hanya dua orang saja.

“Pasien dengan kanker stadium 1 ini memiliki harapan hidup lebih dari 80 persen. Lalu, pasien berpeluang memiliki harapan hidup sebanyak 70-80 persen itu ketika berada di stadium 2. Begitu stadium 3, angka harapan hidup tinggal 50 persen. Semakin stadium kanker meningkat menjadi stadium 4, angka harapan hidup kurang lebih 40 persen saja,” ungkap dr. Bob saat acara media briefing “Deteksi Dini Kanker Payudara dengan SADARI dan SADANIS” di Ditjen P2P, Salemba, Jakarta, Selasa (19/9).

Itulah sebabnya, dr. Bob ini menyarankan agar para perempuan melakukan SADANI, SADANIS, dan mammografi yang dianjurkan bagi mereka yang berusia di atas 35 tahun. Sedangkan, mereka yang berusia di bawah 35 tahun, sebaiknya melakukan USG demi mencegah terjadinya kanker payudara pada stadium lanjut.

Direktur Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kemkes dr. Lily S. Sulistyowati, MM mengangguki hal tersebut. Ia menyarankan agar SADARI dan SADANIS dilakukan setiap bulan.

“Bagi perempuan yang menstruasi teratur dapat melakukan SADARI dan SADANIS pada hari ke-7 hingga ke-19 terhitung dari hari pertama menstruasi. Sedangkan, mereka yang menstruasinya tidak teratur atau sudah menopause dapat melakukan pemeriksaan pada tanggal yang sama setiap bulan,” terang dr. Lily.  

Saat melakukan SADARI, sambung dr. Bob, perhatikan apakah ada benjolan di seputar payudara. “Yang patut diwaspadai itu bila ada benjolan yang tidak hilang dalam masa dua kali haid,” imbuhnya.

Begitu dicurigai hal tersebut, dia berkata agar perempuan segera melakukan SADANIS, apalagi ada keturunan familial breast cancer. “Nanti ada pengecekan darah, dilihat melalui tes genetik, apakah nanti direkomendasikan untuk segera melakukan tindakan berdasarkan apakah tumor itu simpel (kambuhan), komplek (sering kambuh tapi masih jinak), atau sudah masuk tumor jinak yang bisa berubah sifat menjadi ganas. Hal ini melihat laporan dari PA (patologi dan anatomi),” ungkap dr. Bob.

Selain itu, lanjut dr. Bob, bagi mereka yang tengah menjalankan program untuk mendapatkan buah hati untuk juga memeriksakan diri ke dokter onkologi. “Ada beberapa obat penyubur itu mengandung hormon. Nah, salah satu hormon yang memicu terjadinya kanker payudara adalah hormon estrogen. Jadi, kalau sudah mulai dengan terapi obat penyubur, apalagi dalam jangka waktu yang lama, sebaiknya kontrol ke dokter onkologi. Demikian juga dalam pemakaian KB, apakah itu susuk, pil, atau suntik yang mengandung hormon juga, sebaiknya beralih ke IUD,” pungkasnya.

Teks & Foto : Paramita
     
     

 


Baca Juga

Ini Lho Khasiat Air Kelapa untuk Kesehatan Tubuh
21 10 2017
Kata Siapa Pria Gak Boleh Pedikur, Nih 5 Manfaatnya!
19 10 2017
Ini Cara Sophie Navita Lepas dari Gadget
19 10 2017
Nih, 3 Nyamuk yang Patut Diwaspadai!
9 10 2017
5 Gaya Hidup Untuk Menghindari Diabetes
17 10 2017