...
no tags
Anggarini Paramita
13 September 2017

Jakarta, GoHitz.com – Betapa tidak nyaman ketika kita didera saraf terjepit atau istilah kedokterannya disebut Herniasi Nukleus Pulposus (HNP). Ya, itulah yang dialami oleh Endang dan Sri. Endang, misalnya, telah menderita saraf kejepit sejak tahun 2004, namun sakitnya tidak reda meski telah melakukan fisioterapi dan berobat. Hal serupa juga dialami Sri, yang telah dua tahun terakhir mengalami sakit yang sama. Mereka menolak untuk dioperasi dengan alasan takut bahwa proses tersebut justru menimbulkan risiko berat di kemudian hari. Padahal, proses operasi ini justru mempercepat pemulihan kondisi dari saraf kejepit. Pengobatan operatifnya adalah minimally Invasive.

Menurut dr. Mahdian Nur Nasution, Sp.BS, pakar nyeri Klinik Nyeri dan Tulang Belakang Onta Merah ini, saraf terjepit (HNP) artinya adanya penonjolan inti dari diskus yang menjadi bantalan tulang belakang sehingga penonjolan itu menekan saraf dan itulah yang menyebabkan nyeri.

“Biasanya, kasus ini sering terjadi pada pasien usia 41-60 tahun. Pasien ini akan bolak-balik ke rumah sakit. Sayangnya, jepitan saraf ini tidak bisa diobati tanpa operasi. Pada kasus saraf kejepit yang berat, bila tidak ditangani dengan cepat selama tiga bulan, misalnya, kakinya akan mengecil,” ungkap dr. Mahdian di Klinik Nyeri dan Tulang Belakang Onta Merah di Jakarta, Selasa (12/9).

Umumnya, sambung dr. Mahdian, dari 10 pasien itu sebanyak 9 pasien itu menolak dioperasi dengan alasan seperti menjadi lumpuh.

Diakui oleh dr. Mahdian, ada beberapa cara pengobatan operatif, yakni operasi konvesional dan minimally invasive.

“Operasi konvesional ini adalah operasi laminektomi (tulang belakang). Nantinya, ada beberapa sayatan karena ada proses kulit dibuka, otot disisihkan, ligamen dipotong, dan struktur tulang dirusak. Menurut penelitian, risiko kegagalan operasi laminektomi mencapai 30-40 persen. Ini bisa dilihat dari infeksi pada luka tulang belakang, kerusakan saraf tulang belakang, bantuan parsial atau tidak ada rasa sakit setelah operasi, kembali nyeri punggung, dan jika Anda memiliki fusi tulang belakang, tulang belakang Anda di atas dan di bawah fusi lebih memberikan masalah di masa depan,” paparnya.

Kini, lanjut dr. Mahdian, pasien tidak perlu takut lagi dioperasi karena ada operasi yang minimally invasive bernama Endoscopy PELD.

“Endoscopy PELD (Percutanous Endoscopy Lumbar Discectomy) adalah teknik operasi baru yang bersifat minimal invasive untuk pengobatan saraf kejepit akibat bantalan tulang (discus). Teknik ini benar-benar minim invasive karena hanya dilakukan endoskopi dengan membuat lubang yang berdiameter tidak lebih dari 10 sentimeter, hanya 7 milimeter saja. Setelah proses endoscopy, setelah satu hingga minggu kemudian mereka bisa bekerja. Berbeda dengan operasi konvensional, setelah proses operasi, pasien baru bisa bekerja satu bulan kemudian,” ungkap dokter yang berpraktik di Klinik Nyeri dan Tulang Belakang Onta Merah di Jakarta ini.  

Dokter Mahdian membeberkan bahwa operasi dengan teknik Endoscopy ini memiliki banyak keuntungan. “Dapat dilakukan dengan local anastesy, waktu operasi cepat, minimal invasive karena tidak merusak struktur anatomi jaringan yang ada di sekitar saraf, yakni otot, saraf ligament, tendon, tulang, dan bantalan tulang. Lalu, minimal pendarahan, tidak menyebabkan kerusakan otot, tidak memotong ligament, lebih cepat pulih, kemungkinan kecil untuk kambuh, tidak menyebabkan perlengketan, serta minimal dari komplikasi lain,” pungkasnya.

Teks : Paramita
Foto : Shutterstock
     

 

Baca Juga




Baca Juga

Cuci Tangan Turunkan Risiko dari Paparan Kuman
15 12 2017
Setelah Melahirkan, Segera Pasang KB
15 12 2017
UHT, Susu nan Praktis dan Sehat
16 12 2017
Ada Selaput Putih di Amandel, Awas Difteri!
15 12 2017