...
no tags
Anggarini Paramita
15 May 2018

Jakarta, GoHitz.com – Siapa bilang remaja tidak perlu diperhatikan lagi kebutuhan gizinya? Terbukti dari kecenderungan status gizi (IMT/U) usia 16-18 tahun di Indonesia pada tahun 2010 dan 2013 itu menunjukkan bahwa berat badan dari yang sangat kurus, kurus, hingga gemuk justru angkanya meningkat. Apa yang salah dari hal tersebut?

Remaja ingin dirinya tampil sempurna. Bagi remaja yang merasa bertubuh gemuk, mereka akan membatasi asupan makanan. Alhasil, ada yang justru semakin kurus tidak proporsional, tapi ada pula yang berat badan semakin gemuk.

“Muncul masalah remaja terlalu kurus. Mereka membatasi asupan makanan karena pola makan yang salah, takut gemuk, dan diet tidak sehat. Sehingga muncul risiko penyakit kronis seperti gangguan penyerapan,” ujar dr. Yoga Devaera, Sp.A (K) dalam Seminar Kesehatan dan Gizi Remaja di Kementerian Kesehatan RI, Jakarta, Selasa (15/5).

Ada pula remaja, sambung dr. Yoga, yang melewatkan sarapan, misalnya. Justru kebiasaan skipping meals itu mengaktivasi mode hemat, di mana secara fisiologis meningkatkan lemak di perut yang berisiko terhadap risiko munculnya Penyakit Tidak Menular (PTM).

“Selain skipping meals, faktor yang memengaruhi kegemukan adalah mengasup makanan tinggi kalori, snacking, eating out, jarang makan dan buah, juga sering mengonsumsi minuman bergula,” jelas Ketua Divisi Nutrisi dan Penyakit Metabolik Departemen Ilmu Kesehatan Anak, FKUI-RSCM.

Kerap juga remaja mengalami anemia dengan gejala pucat, cepat letih, dan lesu. Hal ini menurut dr. Yoga turut memengaruhi konsentrasi belajar dan motoriknya.

“Kekurangan zat besi ini akibat kebutuhan percepatan pertumbuhan (growth spurt), kehilangan darah saat haid yang dialami remaja putri dan kekuranga asupan zat besi,” sebut Anggota Satgas Remaja IDAI ini.

Oleh karena itu, dr. Yoga menyarankan agar remaja mengasup sumber zat besi, seperti daging merah (penyerapan terbaik), sayuran hijau—jeruk dan tomat sebagai enhancer sumber vitamin C, produk yang difortifikasi zat besi, dan tablet besi sekali per minggu di sekolah.      

Kemudian, sambungnya, kekurangan asupan kalsium juga kerap dialami oleh remaja. Sebab, kalsium ini diperlukan saat percepatan pertumbuhan (growth spurt), di mana usia ini adalah puncak pembentukan massa tulang dan kepadatan massa tulang untuk menurunkan risiko osteoporosis dan patah tulang.

“Sumber kalsium ini diperoleh dari produk susu dan turunannya. Atau produk hewani yang dimakan tulangnya, tahu, brokoli, produk yang difortifikasi kalsium, dan suplemen kalsium,” ujar dr. Yoga yang menganjurkan pentingnya asupan kalsium ini.  

Teks : Paramita
Foto : Shutterstock
     

 

Baca Juga




Baca Juga

Penderita Maag? Ini Tip Agar Puasa Lancar!
21 05 2018
Begini Cara Mengatasi Kecanduan Televisi
20 05 2018
Ini Lho Sejuta Manfaat Siwak Bagi Kesehatan Mulut
19 05 2018
Oh, Ternyata Kebutuhan Nutrisi Perempuan itu Berbeda di Setiap Usia
17 05 2018