Dibaca 805 kali
...
no tags
Anggarini Paramita
24 January 2018
Jakarta, GoHitz.com - Bagi Murywati Darmokusumo, batik sudah menjadi bagian kehidupannya. Ditambah lagi tradisi Jawa, terkhusus Yogyakarta yang sangat melekat padanya sejak kecil. Hal tersebut membuat Murywati akrab bersentuhan dengan batik.
 
Poin utama yang membuatnya menyukai kain batik terletak pada kayanya makna serta filosofi yang terkandung di balik sebuah motif batik. Tak hanya ingin sekadar mencintai batik, dia pun juga mulai mencari tahu dan belajar mengenai seluk-beluk kain batik. Tujuannya, agar dapat melestarikan salah satu warisan budaya Nusantara ini.
 
"Saya suka dengan batik, kemudian ingin sekali melestarikan karena filosofi itu jangan sampai hilang. Kemudian saya menggali tentang batik itu sendiri," ucap Murywati Darmokusumo saat berbincang dengan GoHitz.
 
Murywati menjelaskan, bagi masyarakat Jawa sendiri, khususnya yang ada di Yogyakarta, batik sudah menjadi bagian dari lingkar kehidupan, mulai dari kelahiran, pernikahan, hingga bahkan saat kematian. Seluruh rangkaian proses hidup tak bisa dilepaskan begitu saja dari batik.
 
"Jadi, setiap langkah kehidupan menurut orang Yogya punya kepercayaan harus memohon kepada yang Maha Kuasa untuk keselamatan. Salah satunya untuk orang Jawa, yang memakai batik-batik. Karena orang zaman dulu setiap mau membatik itu harus puasa," ujarnya.
 
Murywati menambahkan,"Bahkan sampai kematian itu ada batik yang digunakan untuk menghormati orang meninggal. Kemudian, pada waktu orang mau meninggal itu kadang sudah menyimpan batik yang akan menjadi selimut nanti. Itu biasa bagi orang Jawa. Biasanya kain yang sangat digemari."
 
Sebagai salah satu upaya melestarikan batik, Murywati juga telah menulis sebuah buku berjudul 'Batik Yogyakarta dan Perjalanannya dari Masa ke Masa". Buku ini merangkum banyak hal mengenai batik itu sendiri. Mulai dari sejarah batik Jogjakarta sejak zaman kerajaan. Hingga mengupas makna di balik setiap motif batik yang beraneka ragam.
 
"Motif-motif yang sudah ada, seperti kawung, parang, ternyata sudah ada di beberapa candi Hindu-Buddha zaman dulu," ungkapnya.
 
Selain dalam bentuk buku, dia juga membuat sebuah label busana yang diberi nama "Sekar Kedaton" yang menjual produk pakaian dengan motif batik. "Sekar Kedaton" menjual busana bermotif batik untuk beragam usia, mulai dari usia muda hingga tua.
 
"Sekar Kedaton artinya 'Sekar' itu bunga, 'Kedaton' itu keraton. Jadi, kembangnya keraton. Sekar Kedaton itu juga dipakai nama putri raja yang nomor satu, tapi saya artinya bunganya keraton itu batik," ujarnya.
 
Produknya ini pun sudah beredar dan masuk ke beberapa pusat perbelanjaan di Jakarta. Model serta gaya busana yang disajikan oleh "Sekar Kedaton" pun terlihat modern. Hal ini dilakukan agar para anak muda juga tertarik mengenakan batik dalam berbagai kesempatan.
 
"Dulu kan anggapannya batik itu kuno, norak. Tapi, sekarang anak muda mau pakai karena bisa di-combine. Modelnya juga gaya," tambah Murywati.
 
Produk "Sekar Kedaton" sendiri sekarang sudah dikenal luas. Bahkan, beberapa kali juga ia sering diundang ke luar negeri untuk menggelar peragaan busana. 
 
"Untuk Februari pertengahan nanti ada fashion show di New York yang menyelenggarakan KJRI," tutupnya.
 
Teks : Yogi Rahman
Editor : Paramita
Foto : Kahfie Kamaru

 

Teks : Yogi Rachman
 

Baca Juga




Baca Juga

Pesona Tujuh Suku yang Menjadi Kekayaan Budaya Teluk Bintuni
24 07 2018
Bukan Cuma Indonesia, 5 Negara Ini Juga Punya Tradisi Mudik
19 06 2018
Pesona Masjid Raya Kota Bandung yang Bersejarah
14 06 2018
5 Fakta Menarik Dewa Perang Ares
5 06 2018